Langsung ke konten utama

Janji

Janji terberat adalah janji pada diri sendiri. Apalagi jika kamu orang yang terbiasa mengecewakan diri sendiri. Janji pada diri sendiri seringkali dianggap sebagai janji dengan level terendah karena kamu tidak akan khawatir dirimu membenci kamu berlama-lama, bukan? Jika itu pun yang terjadi, seringnya kita tak peduli. Sebenci apa pun kamu dengan dirimu sendiri, tetaplah mulut itu juga yang kamu pakai untuk mengunyah makanan kesukaanmu, tetap tangan itu yang kamu pakai untuk memainkan ritme-ritme gitar dari lagu kesayanganmu, tetap mata itu yang kamu pakai untuk bersolek di depan cermin kamarmu. Kamu bisa membenci dirimu sendiri dan sekaligus menghabiskan 24 jam waktumu untuk bersamanya, yang kamu benci itu.


Maka, benarlah janji terberat adalah janji pada diri sendiri. Tak ada hukuman yang bisa kamu terapkan pada dirimu jika janji itu tak kamu penuhi. Penyesalan? Bisa jadi hukuman berat untukmu, tapi seringkali juga penyesalan hanya teman lamunan saat kamu sedang tidak ada kegiatan. Di antara waktu sibukmu yang lain, penyesalan tak punya kuasa sama sekali untuk sekedar menyentuh pintu kenanganmu.

Ah, bagaimana caranya untuk bisa memenuhi janji pada diri sendiri? Apa janji itu harus dititipkan pada orang yang kita percaya? Agar dia bisa menagih dan menghukum meskipun itu janji bukan untuknya? Adakah orang yang mau melakukan itu? Adakah orang itu adalah kamu, hatiku?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC–Dokter Pegiat ASI yang Pemberani

Pernahkah Anda mendengar cerita tentang dokter yang “berselingkuh” dengan industri farmasi dan industri kesehatan? Saya pernah mendengar hal semacam itu dan beberapa orang kenalan saya memang membenarkan kalau itu terjadi. Katanya memang ada perusahaan farmasi yang menawarkan “hadiah” kepada para dokter yang mau menuliskan obat produksi mereka dalam resep-resep mereka. Hadiahnya bisa bermacam-macam, dari dibiayai pendidikan lanjutnya sampai diberikan mobol mewah terbaru. Miris bagaimana kesehatan pasien menjadi barang dagangan semata di kalangan oknum dokter yang takubahnya seperti agen obat itu. Tapi saya yakin, tidak semua dokter punya prinsip demikian. Ada juga dokter yang masih memiliki integritas tinggi dan membaktikan hidupnya demi nilai-nilai kemanusiaan. Saya pernah menemui salah satu dari dokter yang seperti itu. Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan menjadi relawan jurnalistik Dompet Dhuafa dan diminta untuk mewawancarai beberapa dokter yang menjadi relawan medis di sana. N…

Tiga Pertanyaan

Pendidikan Interprofesional (IPE) Profesi Kesehatan di Indonesia

: Obat Manjur Bagi Prasangka Profesi
Bila berbicara tentang prasangka negatif terhadap profesi kesehatan lain, mau tidak mau saya jadi teringat dengan peristiwa sepuluh tahun lalu, saat saya masih bertugas sebagai asisten apoteker di sebuah apotek swasta di bilangan Jakarta Barat. Saat itu saya baru lulus SMF (dahulu masih bernama SMF, kalau sekarang sudah menjadi SMK Farmasi). Ketika itu saya mendapat giliran tugas pagi, sedangkan senior saya tugas malam. Apoteker apotek pun sepagi itu sedang tugas mengajar di SMF binaannya. Kemudian datanglah seorang pasien manula membawa selembar resep yang ternyata ditulis dr. X yang terkenal tulisannya sulit dibaca. Keringat dingin langsung mengucur dari tubuh saya, tapi jelas saya tidak boleh menolak resep. Saya bisa kena omel pimpinan apotek kalau ketahuan dan kasihan juga pasien malang itu. Juru racik saya yang baik menyarankan agar menelpon dokternya langsung untuk konfirmasi isi resepnya. Saran itu tidak langsung saya iyakan karena teringat t…