Langsung ke konten utama

Rahasia Waktu Para Ulama Terdahulu

Diambil dari dpshots.com

Sudah lama aku menyimpan pertanyaan bagaimana ulama zaman dahulu bisa menguasai berbagai bidang keilmuan yang jauh berbeda tapi juga tetap dapat beraktivitas keduniawian seperti berdagang, berpolitik, atau berjihad. Waktu yang mereka punya sama denganku, 24 juga sehari, tetapi kenapa seolah waktu seperti lentur di tangan mereka, sedangkan aku yang aktivitasnya begini-begini saja seakan 24 jam tidaklah cukup.

Beberapa waktu lalu aku temui jawabannya. Rahasianya adalah konsisten menjaga waktu sholat di awal waktu. Dengan menjaga jadwal sholat maka Allah akan memudahkan jadwal kita beraktivitas. Ceritanya aku temukan di beranda Facebook-ku. Begini ceritanya.

Ada cerita tentang seseorang yang mengeluhkan jadwal hidupnya yang berantakan kepada sahabatnya yang shalih. Termasuk tentang bagaimana waktu 24 jam itu tidak cukup buatnya. Sahabatnya pun menanyakan bagaimana jadwal sholat si penanya dan dengan jujur dia jawab sholatnya sering di akhir waktu, sering ditunda-tunda. Maka sang sahabat menyarankan agar dia memperbaiki jadwal solatnya. Awalnya orang ini berpikir betapa tidak logisnya saran si sahabat. Tapi karena benar-benar tidak tahu harus melakukan apa lagi, dia ikutilah. Akhirnya perlahan tapi pasti, setiap janji yang dibuat orang dan rekan bisnisnya selalu pas dengan waktu senggangnya. Malah sekarang ia jadi punya waktu untuk melakukan hal lain dan memperbanyak ibadahnya. Semakin banyak ibadahnya malah waktunya seakan terasa cukup untuk melakukan banyak hal. Logika tentu tidak bisa menjawab hal ini. Begitulah bagaimana Alloh bisa memudahkan urusan hamba-Nya yang mengutamakan Dia dibanding kesibukan hidupnya.

Jadi, kuncinya adalah sholat di awal waktu. Sesederhana itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC–Dokter Pegiat ASI yang Pemberani

Pernahkah Anda mendengar cerita tentang dokter yang “berselingkuh” dengan industri farmasi dan industri kesehatan? Saya pernah mendengar hal semacam itu dan beberapa orang kenalan saya memang membenarkan kalau itu terjadi. Katanya memang ada perusahaan farmasi yang menawarkan “hadiah” kepada para dokter yang mau menuliskan obat produksi mereka dalam resep-resep mereka. Hadiahnya bisa bermacam-macam, dari dibiayai pendidikan lanjutnya sampai diberikan mobol mewah terbaru. Miris bagaimana kesehatan pasien menjadi barang dagangan semata di kalangan oknum dokter yang takubahnya seperti agen obat itu. Tapi saya yakin, tidak semua dokter punya prinsip demikian. Ada juga dokter yang masih memiliki integritas tinggi dan membaktikan hidupnya demi nilai-nilai kemanusiaan. Saya pernah menemui salah satu dari dokter yang seperti itu. Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan menjadi relawan jurnalistik Dompet Dhuafa dan diminta untuk mewawancarai beberapa dokter yang menjadi relawan medis di sana. N…

Tiga Pertanyaan

Pendidikan Interprofesional (IPE) Profesi Kesehatan di Indonesia

: Obat Manjur Bagi Prasangka Profesi
Bila berbicara tentang prasangka negatif terhadap profesi kesehatan lain, mau tidak mau saya jadi teringat dengan peristiwa sepuluh tahun lalu, saat saya masih bertugas sebagai asisten apoteker di sebuah apotek swasta di bilangan Jakarta Barat. Saat itu saya baru lulus SMF (dahulu masih bernama SMF, kalau sekarang sudah menjadi SMK Farmasi). Ketika itu saya mendapat giliran tugas pagi, sedangkan senior saya tugas malam. Apoteker apotek pun sepagi itu sedang tugas mengajar di SMF binaannya. Kemudian datanglah seorang pasien manula membawa selembar resep yang ternyata ditulis dr. X yang terkenal tulisannya sulit dibaca. Keringat dingin langsung mengucur dari tubuh saya, tapi jelas saya tidak boleh menolak resep. Saya bisa kena omel pimpinan apotek kalau ketahuan dan kasihan juga pasien malang itu. Juru racik saya yang baik menyarankan agar menelpon dokternya langsung untuk konfirmasi isi resepnya. Saran itu tidak langsung saya iyakan karena teringat t…