Langsung ke konten utama

Puisi, Laptop, dan Jatuh Cinta Pertama

Setiap orang punya kisah gelapnya masing-masing. Dan satu hal yang pertama membuatku lupa tentang gelap itu adalah puisi. Aku seorang introvert yang tak bisa membiarkan siapa pun tahu apa yang berlintasan dalam pikiranku, tapi jiwa ini hanya sebatas wadah yang mudah penuh, butuh penyaluran. Lalu puisi adalah solusi logisnya.

Aku bisa bercerita tentang sesuatu dengan menggunakan kata lain dan tak takut orang lain tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku merasa nyaman menulis puisi, dia mendengar saat tidak ada yang mau mendengar. Ia menenangkan resah, saat yang lain hidup dalam dunia mereka sendiri. Bisa dibilang, puisi adalah jatuh cinta pertamaku dan cintaku itu ternyata bertahan lama.
Laptop kesayangan

Hingga kini, aku masih rajin menulis puisi. Dan rapi kusimpan dalam folder khusus laptopku. Jadi jangan heran kalau aku sulit membiarkan orang membuka laptopku. Buatku, laptop ada barang pribadi seperti halnya dompet, ponsel, atau yang lebih ekstrim, celana dalam. Jadi tidak heran kalau aku sulit meminjamkan laptop, karena sebenarnya siapa juga yang sudi meminjam celana dalam orang, kan? :D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC–Dokter Pegiat ASI yang Pemberani

Pernahkah Anda mendengar cerita tentang dokter yang “berselingkuh” dengan industri farmasi dan industri kesehatan? Saya pernah mendengar hal semacam itu dan beberapa orang kenalan saya memang membenarkan kalau itu terjadi. Katanya memang ada perusahaan farmasi yang menawarkan “hadiah” kepada para dokter yang mau menuliskan obat produksi mereka dalam resep-resep mereka. Hadiahnya bisa bermacam-macam, dari dibiayai pendidikan lanjutnya sampai diberikan mobol mewah terbaru. Miris bagaimana kesehatan pasien menjadi barang dagangan semata di kalangan oknum dokter yang takubahnya seperti agen obat itu. Tapi saya yakin, tidak semua dokter punya prinsip demikian. Ada juga dokter yang masih memiliki integritas tinggi dan membaktikan hidupnya demi nilai-nilai kemanusiaan. Saya pernah menemui salah satu dari dokter yang seperti itu. Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan menjadi relawan jurnalistik Dompet Dhuafa dan diminta untuk mewawancarai beberapa dokter yang menjadi relawan medis di sana. N…

Tiga Pertanyaan

Pendidikan Interprofesional (IPE) Profesi Kesehatan di Indonesia

: Obat Manjur Bagi Prasangka Profesi
Bila berbicara tentang prasangka negatif terhadap profesi kesehatan lain, mau tidak mau saya jadi teringat dengan peristiwa sepuluh tahun lalu, saat saya masih bertugas sebagai asisten apoteker di sebuah apotek swasta di bilangan Jakarta Barat. Saat itu saya baru lulus SMF (dahulu masih bernama SMF, kalau sekarang sudah menjadi SMK Farmasi). Ketika itu saya mendapat giliran tugas pagi, sedangkan senior saya tugas malam. Apoteker apotek pun sepagi itu sedang tugas mengajar di SMF binaannya. Kemudian datanglah seorang pasien manula membawa selembar resep yang ternyata ditulis dr. X yang terkenal tulisannya sulit dibaca. Keringat dingin langsung mengucur dari tubuh saya, tapi jelas saya tidak boleh menolak resep. Saya bisa kena omel pimpinan apotek kalau ketahuan dan kasihan juga pasien malang itu. Juru racik saya yang baik menyarankan agar menelpon dokternya langsung untuk konfirmasi isi resepnya. Saran itu tidak langsung saya iyakan karena teringat t…