Langsung ke konten utama

Kentut

Beberapa minggu belakangan aku sedang sibuk mengikuti kegiatan kenegaraan. Gak perlu disebut acara apa ya, biar kedengaran keren aja, hehehe

Pada hari terakhir, kami diminta membuat presentasi tentang tema yang diberikan instruktur. Tema yang berbeda jauh dari apa yang sudah dipelajari minggu itu. Aku dan Pak Dian, teman baruku mendapat urutan tema ke-13. Ya, ke-13...yang kata orang adalah angka sial. Aku sih gak ngerasa begitu, walaupun temanya "Meyakinkan audiens bahwa menghirup kentut teman 3x seminggu dapat meningkatkan kecerdasan emosi," aku tetap merasa angka 13 bukanlah angka sial.


Mendapat tema itu sepertinya memang membuat aku semakin yakin bahwa gak ada hal yang disebut sebagai kebetulan di dunia ini. Masalahnya, aku memang tergolong pelaku. Atau mungkin lebih tepatnya pelaku yang memperdengarkan suara kentutnya ke teman-teman. Aku pelaku. Mereka korban :v

Berangkat dari ketidak-kebetulan itu, bisa ditebak, mudah buatku bikin presentasi dan menyambung-nyambungkan argumentasi. Maklum, pelaku.

Saat presentasi, meski grogi di awal, tapi dasar memang urat malu sudah putus, lama-lama bisa melting dengan temanya. Mungkin teman-teman peserta yang lain diam-diam sudah mengidentikkan namaku dengan kentut. Bahkan ada satu teman yang mengapresiasi penampilanku sebagai "Puncaknya penampilan kamu di acara *****"

Aku pun cuma bisa nyengir.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC–Dokter Pegiat ASI yang Pemberani

Pernahkah Anda mendengar cerita tentang dokter yang “berselingkuh” dengan industri farmasi dan industri kesehatan? Saya pernah mendengar hal semacam itu dan beberapa orang kenalan saya memang membenarkan kalau itu terjadi. Katanya memang ada perusahaan farmasi yang menawarkan “hadiah” kepada para dokter yang mau menuliskan obat produksi mereka dalam resep-resep mereka. Hadiahnya bisa bermacam-macam, dari dibiayai pendidikan lanjutnya sampai diberikan mobol mewah terbaru. Miris bagaimana kesehatan pasien menjadi barang dagangan semata di kalangan oknum dokter yang takubahnya seperti agen obat itu. Tapi saya yakin, tidak semua dokter punya prinsip demikian. Ada juga dokter yang masih memiliki integritas tinggi dan membaktikan hidupnya demi nilai-nilai kemanusiaan. Saya pernah menemui salah satu dari dokter yang seperti itu. Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan menjadi relawan jurnalistik Dompet Dhuafa dan diminta untuk mewawancarai beberapa dokter yang menjadi relawan medis di sana. N…

Tiga Pertanyaan

Pendidikan Interprofesional (IPE) Profesi Kesehatan di Indonesia

: Obat Manjur Bagi Prasangka Profesi
Bila berbicara tentang prasangka negatif terhadap profesi kesehatan lain, mau tidak mau saya jadi teringat dengan peristiwa sepuluh tahun lalu, saat saya masih bertugas sebagai asisten apoteker di sebuah apotek swasta di bilangan Jakarta Barat. Saat itu saya baru lulus SMF (dahulu masih bernama SMF, kalau sekarang sudah menjadi SMK Farmasi). Ketika itu saya mendapat giliran tugas pagi, sedangkan senior saya tugas malam. Apoteker apotek pun sepagi itu sedang tugas mengajar di SMF binaannya. Kemudian datanglah seorang pasien manula membawa selembar resep yang ternyata ditulis dr. X yang terkenal tulisannya sulit dibaca. Keringat dingin langsung mengucur dari tubuh saya, tapi jelas saya tidak boleh menolak resep. Saya bisa kena omel pimpinan apotek kalau ketahuan dan kasihan juga pasien malang itu. Juru racik saya yang baik menyarankan agar menelpon dokternya langsung untuk konfirmasi isi resepnya. Saran itu tidak langsung saya iyakan karena teringat t…