Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

"Kenapa Harus Aku, Tuhan?!"

Pernahkah kita melihat ada orang yang sehari-harinya berbuat jahat pada orang lain, berbuat curang, dan tindakan yang tidak dibenarkan lainnya, tapi saat ditimpa masalah malah merasa dirinyalah yang paling teraniaya, terzalimi, dan menderita?

Sehari-hari menggunjingkan keburukan orang, menguak aib rekan atau temannya sendiri, pelit senyum, sering bolos kerja atau kuliah, sering menghardik orang, tapi berharap sekali orang lain ramah padanya, membicarakan kebaikannya, berharap orang lain menutupi keburukannya, berharap dapat kenaikan jabatan atau lulus kuliah dengan nilai memuaskan, dan berharap orang lain senang dengan kehadirannya atau memaklumi kekurangannya. Aneh bukan?



Saat sebagian besar orang membencinya, malas memberikan bantuan padanya, diam-diam menjatuhkan dia, atau ogah-ogahan mengapresiasi kerjanya, dia malah berpikir, "Kenapa orang kejam padaku? Kenapa hidupku begini? Salahku apa? Kenapa harus aku yang diperlakukan begini?"

Ada orang seperti itu? Atau malah kita…

Puisi, Laptop, dan Jatuh Cinta Pertama

Setiap orang punya kisah gelapnya masing-masing. Dan satu hal yang pertama membuatku lupa tentang gelap itu adalah puisi. Aku seorang introvert yang tak bisa membiarkan siapa pun tahu apa yang berlintasan dalam pikiranku, tapi jiwa ini hanya sebatas wadah yang mudah penuh, butuh penyaluran. Lalu puisi adalah solusi logisnya.

Aku bisa bercerita tentang sesuatu dengan menggunakan kata lain dan tak takut orang lain tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku merasa nyaman menulis puisi, dia mendengar saat tidak ada yang mau mendengar. Ia menenangkan resah, saat yang lain hidup dalam dunia mereka sendiri. Bisa dibilang, puisi adalah jatuh cinta pertamaku dan cintaku itu ternyata bertahan lama.

Hingga kini, aku masih rajin menulis puisi. Dan rapi kusimpan dalam folder khusus laptopku. Jadi jangan heran kalau aku sulit membiarkan orang membuka laptopku. Buatku, laptop ada barang pribadi seperti halnya dompet, ponsel, atau yang lebih ekstrim, celana dalam. Jadi tidak heran kalau aku sulit meminjam…

Rahasia Waktu Para Ulama Terdahulu

Sudah lama aku menyimpan pertanyaan bagaimana ulama zaman dahulu bisa menguasai berbagai bidang keilmuan yang jauh berbeda tapi juga tetap dapat beraktivitas keduniawian seperti berdagang, berpolitik, atau berjihad. Waktu yang mereka punya sama denganku, 24 juga sehari, tetapi kenapa seolah waktu seperti lentur di tangan mereka, sedangkan aku yang aktivitasnya begini-begini saja seakan 24 jam tidaklah cukup.
Beberapa waktu lalu aku temui jawabannya. Rahasianya adalah konsisten menjaga waktu sholat di awal waktu. Dengan menjaga jadwal sholat maka Allah akan memudahkan jadwal kita beraktivitas. Ceritanya aku temukan di beranda Facebook-ku. Begini ceritanya.
Ada cerita tentang seseorang yang mengeluhkan jadwal hidupnya yang berantakan kepada sahabatnya yang shalih. Termasuk tentang bagaimana waktu 24 jam itu tidak cukup buatnya. Sahabatnya pun menanyakan bagaimana jadwal sholat si penanya dan dengan jujur dia jawab sholatnya sering di akhir waktu, sering ditunda-tunda. Maka sang sahabat…

Belajar Membaca Kebohongan

Di dua hari terakhir masa pelatihan, trainer yang datang dari *** mengajarkan kami cara membaca orang yang berbohong dari pergerakan matanya.

Teorinya, bila kita bertanya tentang sesuatu pada orang lalu mata orang itu melihat ke kanan atas itu artinya orang itu sedang merekonstruksi cerita atas pertanyaan yang diberikan alias dia sedang mengarang cerita bohong di kepalanya.

Sebaliknya, kalau dia melihat ke arah kiri atas artinya dia sedang mengingat-ingat kejadian yang pernah terjadi sebelumnya yang artinya dia tidak berbohong.
Trainer itu bilang pergerakan mata itu tidak bisa dikontrol dan dimanipulasi apalagi kalau pertanyaan yang diberikan benar-benar membuat orang yang ditanya kaget dan tidak menduga sama sekali. Jadi, dia tidak bisa memanipulasi gerakan matanya.



Sebagai latihan, kami diminta berpasang-pasangan dan saling berhadapan. Lalu saling menanyakan hal apa saja dan sangat disarankan untuk menanyakan sesuatu yang benar-benar privasi supaya orang itu tidak bisa mengelak dan …

Kentut

Beberapa minggu belakangan aku sedang sibuk mengikuti kegiatan kenegaraan. Gak perlu disebut acara apa ya, biar kedengaran keren aja, hehehe

Pada hari terakhir, kami diminta membuat presentasi tentang tema yang diberikan instruktur. Tema yang berbeda jauh dari apa yang sudah dipelajari minggu itu. Aku dan Pak Dian, teman baruku mendapat urutan tema ke-13. Ya, ke-13...yang kata orang adalah angka sial. Aku sih gak ngerasa begitu, walaupun temanya "Meyakinkan audiens bahwa menghirup kentut teman 3x seminggu dapat meningkatkan kecerdasan emosi," aku tetap merasa angka 13 bukanlah angka sial.


Mendapat tema itu sepertinya memang membuat aku semakin yakin bahwa gak ada hal yang disebut sebagai kebetulan di dunia ini. Masalahnya, aku memang tergolong pelaku. Atau mungkin lebih tepatnya pelaku yang memperdengarkan suara kentutnya ke teman-teman. Aku pelaku. Mereka korban :v

Berangkat dari ketidak-kebetulan itu, bisa ditebak, mudah buatku bikin presentasi dan menyambung-nyambungkan a…

Di Pagi Hari Kau Selalu Kembali

Napas redup subuh
berhembus melalui mulutmu
di ujung jalanan senyap.
cahaya kelabu matamu,
tetesan manis fajar
luruh pada perbukitan gelap.
langkah dan napasmu
seperti angin subuh
mencekik rumah-rumah,
kota-kota pun meremang
bebatuan menghela-
kaulah kehidupan, yang bangkit.

Bintang tersesat
pada cahaya subuh,
gemetarnya hembusan,
kehangatan, napas -
malam pun usai.

Kaulah cahaya dan pagi.

- Cesare Pavese

Tentang Perjalanan

“To move, to breathe, to fly, to float,
To gain all while you give,
To roam the roads of lands remote,
To travel is to live.” - Hans Christian Andersen
Mungkin kesukaanku yang satu ini bisa dibilang datang terlambat. Baru sejak bekerja di Jakarta, aku menyukai jalan-jalan ke daerah yang belum pernah aku sambangi sebelumnya. 
Aku jadi suka melihat laut, walaupun daftar laut yang pernah aku tahu sejak kecil hanya laut Ancol dan laut di sekitar pantai pasir Putih di Lampung, kampung halaman Ayah.
Aku jadi suka gunung, meskipun sejak kecil aku selalu takut membayangkan tersesat di gunung yang penuh dengan hantu dan siluman.
Aku semakin menyukai tempat-tempat bersejarah.
Bepergian ke tempat bersejarah membuatku teringat impian masa kecilku dulu menjadi arkeolog. Menjelajah ke tempat-tempat yang belum tersentuh manusia untuk membaca tentang masa lalu. Tapi sayang aku membiarkan ketakutan pada siluman, hantu, dan kemiskinan untuk melepaskan mimpi masa kecil itu.
Sekarang?
Sepertinya aku sedang…