Langsung ke konten utama

Menyusuri Taman Kota 1 BSD City



Sebagai pengembang, Sinarmas Land terbukti sangat memanjakan konsumennya dengan fasilitas yang cukup lengkap. Tidak hanya dengan fasilitas hunian dan fasilitas pendukung sophisticated seperti rumah sakit, sekolah, dan lainnya yang masuk kategori wah saja, tetapi aspek sustainabillity juga sangat diperhatikan oleh Sinarmas Land. 

Sebagai contoh dapat kita lihat dari BSD City yang merupakan sebuah kota berdikari, karya prestisius dari Sinarmas Land. Sebagai kawasan kota mandiri yang mengintegrasikan konsep hunian, bisnis, dan bermain, BSD City tidak melupakan ruang terbuka hijau berupa taman untuk memanjakan mata dan paru-paru penghuninya. 
Selamat datang di BSD City (koleksi pribadi).

Keberadaan taman kota ini tentu tidak hanya bermanfaat untuk generasi saat ini, tetapi juga untuk generasi mendatang. Apalagi memang salah satu fungsi taman kota adalah sebagai paru-paru kota yang dapat menyerap emisi karbon dioksida yang dapat merugikan kesehatan manusia.

Ada dua taman kota yang dibangun di BSD City, yaitu Taman Kota 1 yang berada dekat dengan Sekolah Al-Azhar di kawasan Giri Loka dan Taman Kota 2 yang ada di kawasan Taman Tekno. Sayangnya, suatu sore beberapa waktu lalu, saya hanya sempat mengunjungi Taman Kota 1 saja.
Luas Taman Kota 1 adalah 2,5 hektar dan ditumbuhi berbagai jenis tanaman yang konon mencapai 2.500 pohon. Beberapa jenis yang saya kenali adalah pohon beringin dan meranti. Lainnya kurang saya kenali. Maklum, bukan ahli botani.
Jogging track Taman Kota 1 BSD City (Koleksi pribadi)

Fasilitas yang ada di dalamnya pun cukup lengkap. Ada jogging track, fitness ground, jembatan gantung, tempat bermain anak, dan kios-kios jajanan di samping tempat parkir. Tempat duduk untuk beristirahat pun banyak tersebar di taman ini. Tempat duduk tersebut terbuat dari kayu, menyatu dengan nuansa alam yang terbangun dalam taman ini.
Bangku taman yang nyaman (koleksi pribadi).

Saat saya berkunjung ada beberapa aktivitas yang dilakukan oleh pengunjungnya. Dari yang berduaan dengan kekasihnya, berolahraga, sampai menjadikan taman ini sebagai lokasi pemotretan album perpisahan sekolah.
Taman menjadi lokasi pemotretan (Koleksi Pribadi).
Hanya sayangnya, taman ini tidak luput dari aksi vandalisme oknum yang tidak bertanggung jawab. Kemungkinan karena taman ini gelap di waktu malam jadi ada sekelompok orang yang berani mencorat-coret fasilitas taman seenaknya saja. 
 
Vandalisme (koleki pribadi).

Contohnya batu peresmian taman oleh menteri lingkungan hidup era SBY, Rachmat Witoelar, yang tidak luput dari aksi corat-coret itu. Tampaknya pihak BSD City harus memasang lampu taman yang cukup untuk menerangi taman di waktu malam dan menambah penjagaannya. Bila penerangan saat malam cukup, bisa saja di Taman Kota 1 BSD City akan ramai oleh aktivitas komunitas unik kegemaran anak muda saat malam. Misalnya komunitas pecinta burung hantu atau semacamnya yang biasa ada di Taman Suropati.
Pengunjung yang asyik berolahraga (Koleksi Pribadi).

Terlepas dari itu, Taman Kota 1 BSD City ini cukup bersih dari sampah dan menyenangkan untuk berlama-lama beraktivitas di dalamnya. Sebenarnya saya tidak menyangka di dekat daerah rumah saya (Ciledug) ada taman kota yang cukup lengkap fasilitasnya dan nyaman untuk dikunjungi. Bahkan kunjungan itu cukup berkesan dan membuat saya ingin bertandang lagi ke taman ini. Mungkin untuk berburu foto lagi atau sekedar menumpang membaca buku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC–Dokter Pegiat ASI yang Pemberani

Pernahkah Anda mendengar cerita tentang dokter yang “berselingkuh” dengan industri farmasi dan industri kesehatan? Saya pernah mendengar hal semacam itu dan beberapa orang kenalan saya memang membenarkan kalau itu terjadi. Katanya memang ada perusahaan farmasi yang menawarkan “hadiah” kepada para dokter yang mau menuliskan obat produksi mereka dalam resep-resep mereka. Hadiahnya bisa bermacam-macam, dari dibiayai pendidikan lanjutnya sampai diberikan mobol mewah terbaru. Miris bagaimana kesehatan pasien menjadi barang dagangan semata di kalangan oknum dokter yang takubahnya seperti agen obat itu. Tapi saya yakin, tidak semua dokter punya prinsip demikian. Ada juga dokter yang masih memiliki integritas tinggi dan membaktikan hidupnya demi nilai-nilai kemanusiaan. Saya pernah menemui salah satu dari dokter yang seperti itu. Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan menjadi relawan jurnalistik Dompet Dhuafa dan diminta untuk mewawancarai beberapa dokter yang menjadi relawan medis di sana. N…

Tiga Pertanyaan

Pendidikan Interprofesional (IPE) Profesi Kesehatan di Indonesia

: Obat Manjur Bagi Prasangka Profesi
Bila berbicara tentang prasangka negatif terhadap profesi kesehatan lain, mau tidak mau saya jadi teringat dengan peristiwa sepuluh tahun lalu, saat saya masih bertugas sebagai asisten apoteker di sebuah apotek swasta di bilangan Jakarta Barat. Saat itu saya baru lulus SMF (dahulu masih bernama SMF, kalau sekarang sudah menjadi SMK Farmasi). Ketika itu saya mendapat giliran tugas pagi, sedangkan senior saya tugas malam. Apoteker apotek pun sepagi itu sedang tugas mengajar di SMF binaannya. Kemudian datanglah seorang pasien manula membawa selembar resep yang ternyata ditulis dr. X yang terkenal tulisannya sulit dibaca. Keringat dingin langsung mengucur dari tubuh saya, tapi jelas saya tidak boleh menolak resep. Saya bisa kena omel pimpinan apotek kalau ketahuan dan kasihan juga pasien malang itu. Juru racik saya yang baik menyarankan agar menelpon dokternya langsung untuk konfirmasi isi resepnya. Saran itu tidak langsung saya iyakan karena teringat t…