Langsung ke konten utama

TB Bisa Sembuh! (Asal Mau)

Semua penyakit, ada obatnya. Prinsip dasar itu yang selalu saya pegang karena dalam agama saya pun ada hadis yang berkata seperti itu. Bahkan untuk penyakit yang sangat mematikan seperti AIDS pun ada obatnya, hanya saja mungkin ilmuwan belum menemukan obat yang sesuai untuk mengobati penyakit AIDS yang disebabkan oleh virus itu. Suatu saat, saya yakin penyakit sekaliber AIDS pun akan ditemukan penyembuhnya.

Lalu bagaimana dengan penyakit TB yang merupakan penyakit menular no.1 yang mematikan di Indonesia? Jangan khawatir, teman,  TB bisa sembuh kok. Sekali lagi, TB bisa sembuh. Loh, beneran?

Begini penjelasannya.

Berbeda dengan AIDS, TB sudah ditemukan obat penyembuhnya sejak lama sekali. Ini cuma perkara, mau sembuh atau tidak. Rela "sedikit" berjuang untuk sembuh dan memperoleh kesehatan lagi ATAU tidak mau sembuh dan membiarkan tuberkulosis menggerogoti tubuh kita dari dalam.


Kita sudah tahu kalau penyebab penyakit TB alias tuberkulosis adalah bakteri Mycobacterium tuberculosis yang berasal dari luar tubuh kita. Logikanya sederhana saja, karena bakteri adalah penyebabnya, maka hasil kerjaan bakteri berupa penyakit TB akan musnah alias sembuh asalkan bakteri penyebab tuberkulosis itu mati dan hilang dari tubuh kita.

Ringkasnya, babat habis bakteri tuberkulosis maka kesembuhan pun akan datang. Nah! Obat-obatan TB prinsip utamanya ya seperti itu. Untuk membunuh bakteri penyebab TB.

Tapi ibarat perang melawan zombie, TB adalah zombie-zombie mini yang lumayan bandel dibasmi. Artinya obat-obatan TB butuh waktu lama untuk memenangkan pertempuran antara kesakitan dan kesehatan. Kurang-lebih butuh waktu 6 bulan. Ya, wajar, karena peperangan ini termasuk peperangan dahsyat maka butuh waktu lebih panjang untuk menang!

Diambil dari http://humansvszombies.org/rules dan sedikit dimodifikasi
Oleh karena itu, berikanlah kesempatan bagi para prajurit pahlawan perang kita, yaitu obat-obatan TB (seperti Rifampisin, INH, Pirazinamid, vit B) untuk berjuang melawan bakteri-bakteri tuberkulosis itu. Caranya ya dengan meminum "pahlawan-pahlawan" perang tadi dengan rutin selama waktu yang dikatakan dokter. Mudah, kan? Lagi pula banyak kok kisah mantan pasien tuberkulosis yang berhasil sembuh dari TB karena mereka pantang kalah oleh bakteri-bakteri mini penyebab TB. Salah satunya rekan kerja saya.

Jadi, mau sembuh dari TB atau tidak, nih?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC–Dokter Pegiat ASI yang Pemberani

Pernahkah Anda mendengar cerita tentang dokter yang “berselingkuh” dengan industri farmasi dan industri kesehatan? Saya pernah mendengar hal semacam itu dan beberapa orang kenalan saya memang membenarkan kalau itu terjadi. Katanya memang ada perusahaan farmasi yang menawarkan “hadiah” kepada para dokter yang mau menuliskan obat produksi mereka dalam resep-resep mereka. Hadiahnya bisa bermacam-macam, dari dibiayai pendidikan lanjutnya sampai diberikan mobol mewah terbaru. Miris bagaimana kesehatan pasien menjadi barang dagangan semata di kalangan oknum dokter yang takubahnya seperti agen obat itu. Tapi saya yakin, tidak semua dokter punya prinsip demikian. Ada juga dokter yang masih memiliki integritas tinggi dan membaktikan hidupnya demi nilai-nilai kemanusiaan. Saya pernah menemui salah satu dari dokter yang seperti itu. Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan menjadi relawan jurnalistik Dompet Dhuafa dan diminta untuk mewawancarai beberapa dokter yang menjadi relawan medis di sana. N…

Tiga Pertanyaan

Pendidikan Interprofesional (IPE) Profesi Kesehatan di Indonesia

: Obat Manjur Bagi Prasangka Profesi
Bila berbicara tentang prasangka negatif terhadap profesi kesehatan lain, mau tidak mau saya jadi teringat dengan peristiwa sepuluh tahun lalu, saat saya masih bertugas sebagai asisten apoteker di sebuah apotek swasta di bilangan Jakarta Barat. Saat itu saya baru lulus SMF (dahulu masih bernama SMF, kalau sekarang sudah menjadi SMK Farmasi). Ketika itu saya mendapat giliran tugas pagi, sedangkan senior saya tugas malam. Apoteker apotek pun sepagi itu sedang tugas mengajar di SMF binaannya. Kemudian datanglah seorang pasien manula membawa selembar resep yang ternyata ditulis dr. X yang terkenal tulisannya sulit dibaca. Keringat dingin langsung mengucur dari tubuh saya, tapi jelas saya tidak boleh menolak resep. Saya bisa kena omel pimpinan apotek kalau ketahuan dan kasihan juga pasien malang itu. Juru racik saya yang baik menyarankan agar menelpon dokternya langsung untuk konfirmasi isi resepnya. Saran itu tidak langsung saya iyakan karena teringat t…