Langsung ke konten utama

Belajar dari Pos Sehat At-Taubah


: Kiprah Ibu-ibu Majelis Taklim Peduli Sosial

Tahun lalu, saya pernah terlibat dalam penulisan buku Pos Sehat LKC Dompet Dhuafa. Saya mendapat tugas mewawancarai salah satu Pos Sehat binaan LKC, yaitu Pos Sehat Attaubah yang berdiri di daerah perumahan di Pamulang. Sebelumnya saya tidak mengira kalau penggeraknya adalah ibu-ibu majelis taklim paruh baya. Alangkah malunya saya setelah mengetahui yang sebenarnya karena saya masih muda tapi masih jauh dari apa yang mereka lakukan untuk sesama.
Pos Sehat At-Taubah merupakan pos sehat binaan LKC Dompet Dhuafa yang awalnya digerakkan oleh ibu-ibu majelis taklim masjid At-taubah. Kegiatan Pos Sehat ini mencakup kegiatan kesehatan, sosial berupa pembagian sembako, bahkan pendidikan berupa beasiswa untuk warga dhuafa di sekitar perumahan.
Dalam bidang kesehatan, pos sehat At-taubah didirikan untuk membantu dan memfasilitasi kaum dhuafa yang kurang memiliki akses ke fasilitas kesehatan. Pos Sehat At-Taubah juga memiliki misi untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat kurang mampu, baik kesehatan jasmani (fisik) maupun kesehatan rohani (spiritualitas). Kegiatan pengobatan gratis diadakan tiap selasa dan kamis pukul 16.00; kegiatan advokasi kesehatan tiap tiga bulan sekali (mengenai hipertensi, TBC, kaki gajah, asam urat, kolesterol, dan berbagai topik kesehatan lainnya); senam sehat setiap sabtu pukul 06.00 pagi; dan perbaikan gizi 3-6 bulan sekali.
Pos sehat ini juga memiliki kegiatan pengelolaan sampah yang bermitra dengan bank sampah. Hasil dari pengelolaan sampah ini nantinya akan dapat dimanfaatkan oleh warga kurang mampu di sekitar wilayah pos sehat sebagai pemasukan tambahan yang cukup membantu ekonomi mereka. Tentunya kegiatan ini juga memiliki semangat peduli lingkungan yang sangat tinggi. Ibarat, sambil menyelam, minum air.

Ibu-Ibu Pos Sehat At-Taubah Saat Pemberian Sembako.

Bagaimana dengan pendanaan? Warga perumahan yang tergolong ekonomi mampu diajak untuk menyumbang dana dengan nominal yang tidak dibatasi melalui kartu donatur tetap bulanan yang disebar oleh pengurus Pos Sehat At-taubah. Selain itu, adanya bank sampah yang saya sebutkan tadi juga diharapkan dapat menambah pendanaan operasional Pos tersebut.
Tidak semua orang dapat begitu saja menerima bantuan kesehatan dari Pos Sehat At-Taubah. Mereka sangat memperhatikan latar belakang penerima bantuan kesehatan melalui survei ketat yang dilakukan oleh tim survei. Mereka tidak mau kecolongan dengan meloloskan penerima yang tidak berhak sehingga kadang kala untuk memastikan keberhakan penerima bantuan, mereka perlu mensurvei berkali-kali. Lewat survei itu pula, terkadang mereka menemukan calon penerima bantuan yang sebelumnya tidak terdeteksi oleh mereka. Persyaratan untuk memperoleh hak sebagai penerima bantuan kesehatan Pos Sehat At-taubah juga cukup ketat, bahkan bila penerima bantuan kesehatan ketahuan merokok lebih dari 3 kali akan dicabut bantuannya. Ini berarti penerima bantuan diharapkan benar-benar yang tidak mampu, bukan cuma orang-orang yang “menjual” kemiskinannya untuk mendapat belas kasihan. Penerima bantuan juga dituntut untuk bertanggung jawab juga atas kesehatan mereka.
            Melihat pola kerja ibu-ibu majelis taklim melalui Pos Sehat At-taubah ini bisa saya simpulkan tiga hal.
            Pertama, pemberdayaan warga mampu (ekonomi maupun tenaga) lewat kerja nyata. Pos sehat At-Taubah mengajak orang-orang yang tergolong ekonomi mampu dalam lingkungan perumahan untuk peduli sekitar dan berpartisipasi dalam kegiatan sosial ini. Partisipasi yang diharapkan juga tidak terbatas pada uang saja, tetapi juga berupa tenaga, waktu, dan pikiran. Mereka pun tidak memaksa warga perumahan untuk berpartisipasi, tetapi mereka memberikan contoh dan tetap saja berkarya.
Saya ingat saat mewawancarai Ibu Riza, salah satu pengurus Pos Sehat ini. Bahwa awal pendiriannya, banyak yang meragukan kegiatan kepedulian sosial ini dan tidak percaya bahwa pendanaannya akan beres. Tetapi Ibu Riza dan kawan-kawan tidak mundur dengan adanya hambatan dan prasangka seperti itu. Mereka tetap bekerja dan malah membuktikan kesuksesan kegiatan-kegiatan sosialnya. Hasilnya, banyak di antara warga perumahan yang tadinya tidak tertarik terlibat menjadi anggota aktif yang ikut menyumbangkan tidak hanya dana, tetapi juga tenaga mereka.
            Kedua, pemberdayaan warga tidak mampu lewat partisipasi aktif mereka dalam memperbaiki nasib. Ini terbukti dari seleksi warga penerima bantuan tidak diperbolehkan melakukan gaya hidup yang dapat merusak lagi bila sudah menjadi penerima bantuan pos sehat, seperti contoh perokok yang tidak boleh menjadi penerima bantuan lagi tadi.
            Ketiga, wilayah bantuan yang diberikan harus menyeluruh. Para penerima bantuan memang menerima bantuan dari aspek kesehatan, pendidikan, dan sosial, tetapi mereka juga diwajibkan rutin mengikuti pengajian yang diadakan di Majelis Taklim agar bisa bersama-sama memperbaiki kualitas diri dan ibadah dengan lebih baik lagi. Ini artinya ibu-ibu Pos Sehat At-Taubah tidak hanya peduli pada aspek keduniaan warga dhuafa di sekitar mereka, tetapi juga akhirat mereka.
            Tiga hal yang saya simpulkan di atas setidaknya menjadi hal yang harus saya pegang erat-erat bila suatu saat kelak akan membuat yayasan sosial cita-cita saya kelak. Ditambah lagi, saya ingin menerapkan pula seperti yang dilakukan LKC Ciputat, yaitu memberdayakan para penerima bantuan sebagai agen perubahan di sekitar wilayah mereka. Di LKC Ciputat saya pernah melihat seorang nenek tua yang membantu menuntun temannya yang juga sudah berumur, tetapi penglihatannya terbatas untuk memeriksakan matanya yang katarak di klinik mata LKC Ciputat. Usut punya usut ternyata nenek tua tadi juga tadinya penderita katarak yang berhasil sembuh karena telah dioperasi oleh dokter di LKC Ciputat.
Saat ini mungkin saya hanya bisa membantu menyerukan kepedulian sosial via blog saja, tetapi satu saat saya yakin dapat berpartisipasi lebih aktif lagi dalam program-program sosial yang membuat Indonesia bisa move-on dari berbagai persoalannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC–Dokter Pegiat ASI yang Pemberani

Pernahkah Anda mendengar cerita tentang dokter yang “berselingkuh” dengan industri farmasi dan industri kesehatan? Saya pernah mendengar hal semacam itu dan beberapa orang kenalan saya memang membenarkan kalau itu terjadi. Katanya memang ada perusahaan farmasi yang menawarkan “hadiah” kepada para dokter yang mau menuliskan obat produksi mereka dalam resep-resep mereka. Hadiahnya bisa bermacam-macam, dari dibiayai pendidikan lanjutnya sampai diberikan mobol mewah terbaru. Miris bagaimana kesehatan pasien menjadi barang dagangan semata di kalangan oknum dokter yang takubahnya seperti agen obat itu. Tapi saya yakin, tidak semua dokter punya prinsip demikian. Ada juga dokter yang masih memiliki integritas tinggi dan membaktikan hidupnya demi nilai-nilai kemanusiaan. Saya pernah menemui salah satu dari dokter yang seperti itu. Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan menjadi relawan jurnalistik Dompet Dhuafa dan diminta untuk mewawancarai beberapa dokter yang menjadi relawan medis di sana. N…

Tiga Pertanyaan

Pendidikan Interprofesional (IPE) Profesi Kesehatan di Indonesia

: Obat Manjur Bagi Prasangka Profesi
Bila berbicara tentang prasangka negatif terhadap profesi kesehatan lain, mau tidak mau saya jadi teringat dengan peristiwa sepuluh tahun lalu, saat saya masih bertugas sebagai asisten apoteker di sebuah apotek swasta di bilangan Jakarta Barat. Saat itu saya baru lulus SMF (dahulu masih bernama SMF, kalau sekarang sudah menjadi SMK Farmasi). Ketika itu saya mendapat giliran tugas pagi, sedangkan senior saya tugas malam. Apoteker apotek pun sepagi itu sedang tugas mengajar di SMF binaannya. Kemudian datanglah seorang pasien manula membawa selembar resep yang ternyata ditulis dr. X yang terkenal tulisannya sulit dibaca. Keringat dingin langsung mengucur dari tubuh saya, tapi jelas saya tidak boleh menolak resep. Saya bisa kena omel pimpinan apotek kalau ketahuan dan kasihan juga pasien malang itu. Juru racik saya yang baik menyarankan agar menelpon dokternya langsung untuk konfirmasi isi resepnya. Saran itu tidak langsung saya iyakan karena teringat t…