Langsung ke konten utama

Tuberkulosis: Apa Gejalanya dan Apa yang Harus Kita Lakukan?

Istilah TB mungkin agak asing di telinga, tetapi kalau ditambahkan satu huruf C menjadi TBC, mungkin sebagian besar dari kita telah sangat mengenalnya. Ya, TB sama dengan TBC. Dari laman Fanspage Facebook TB Indonesia, terdapat keterangan yang menjelaskan bahwa memang istilah TBC telah berubah menjadi TB terjadi tahun 1973 oleh Ikatan Dokter Paru Indonesia.

TB sendiri adalah singkatan dari Tuberkulosis, penyakit menular yang terjadi karena infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini merupakan bakteri berbentuk batang yang aerobik (artinya membutuhkan udara untuk hidup) dan tahan asam. Pertumbuhan bakteri ini memang lambat dan sensitif terhadap panas dan sinar ultraviolet. Artinya bakteri ini tidak tahan terkena sinar matahari. Penularan TB melalui droplet (titik) air ludah yang terhirup oleh orang di sekitarnya. Jadi, sekedar memegang pakaian mereka atau bersalaman dengan penderita TB tidaklah menularkan penyakit ini. 

Penyebaran TB dalam tubuh dapat mencapai seluruh bagian tubuh manusia, tidak terbatas pada paru saja, yaitu mulai dari ginjal, tulang, nodus limfatik, dan otak. Infeksi awal terjadi setelah 2 – 10 minggu pajanan dengan bakteri tersebut. Penyakit baru aktif bila imunitas pasien menurun dan basil TB dapat bertahan lebih dari 50 tahun dalam keadaan dorman (tidur atau tidak aktif).

Di dunia, TB kebanyakan menyerang laki-laki, tetapi TB masih disinyalir menduduki tiga besar penyebab kematian pada perempuan. Pada anak, ada estimasi sebesar 530.000 pengidap TB adalah anak di bawah 15 tahun, Kasus TB terbesar terdapat di Asia Tenggara (29%), Afrika (27%), dan wilayah Pasifik Barat (19%). Peringat tertinggi untuk jumlah penderita TB adalah India, China, Afrika Selatan, dan Indonesia.


 Penyebaran TB di Seluruh Dunia (Sumber WHO: 2013)

Di Indonesia, Tuberkulosis (TB) paru merupakan masalah kesehatan yang sangat serius. Penyakit infeksi ini memakan korban meninggal paling banyak di Indonesia setelah penyakit jantung. Indonesia pada tahun 2012 menduduki peringkat ke-4 dalam hal jumlah penderita TB paru terbanyak di dunia, yaitu diperkirakan 0,4 – 0,5 juta orang penderita (WHO). Dalam laporan TB global, estimasi kematian karena TB di Indonesia adalah sebesar 67.000 jiwa (tanpa ko-infeksi/infeksi ikutan HIV-TB) dan 2.100 kematian karena ko-infeksi HIV-TB. 

Lalu apa saja gejala TB paru? 

Gejala utama TB paru adalah batuk berdahak berkepanjangan 2-3 minggu atau lebih. Lalu disertai gejala tambahan seperti dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, malaise (merasa keletihan), berkeringat malam hari meskipun tidak ada kegiatan fisik, serta demam meriang lebih dari satu bulan (Buku Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis: 2006)

Akan tetapi, gejala-gejala di atas juga terjadi pula pada penyakit lain seperti bronkiektasis, bronkitis kronis, asma, kanker paru, dan lain-lain. Untuk itu diperlukan pemastian agar kita benar-benar tahu gejala di atas benar-benar gejala TB atau bukan, yaitu dengan pemeriksaan mikroskopik dan foto ronsen.

Jadi, bila kita mengalami gejala seperti di atas, Anda perlu waspada. Datangi saja langsung Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) terdekat Anda. Bisa ke Puskesmas, Rumah Sakit Daerah, atau mungkin Klinik Dokter Swasta. Namun, lebih disarankan datanglah ke UPK milik Pemerintah untuk mendapatkan pelayanan gratis dan sekaligus berkualitas. Apalagi dengan adanya BPJS sekarang dan TB termasuk penyakit yang obatnya menggunakan obat program pemerintah.

Lalu bagaimana kalau orang-orang terdekat kita mengalami gejala yang mengindikasikan penyakit TB? Ajaklah mereka untuk memeriksakan kesehatannya ke UPK milik pemerintah dan petugas di UPK tersebut akan dengan tanggap membantu Anda dan orang terdekat Anda itu untuk memastikan indikasi sebenarnya dengan cara pemeriksaan laboratorium.

Dengan memeriksakan segera kesehatan Anda dan orang terdekat Anda saat mengalami gejala di atas, Anda telah ikut andil dalam usaha penemuan penderita TB dan penanggulangan penyakit ini di Indonesia.

(Diolah dari berbagai sumber)
">

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC–Dokter Pegiat ASI yang Pemberani

Pernahkah Anda mendengar cerita tentang dokter yang “berselingkuh” dengan industri farmasi dan industri kesehatan? Saya pernah mendengar hal semacam itu dan beberapa orang kenalan saya memang membenarkan kalau itu terjadi. Katanya memang ada perusahaan farmasi yang menawarkan “hadiah” kepada para dokter yang mau menuliskan obat produksi mereka dalam resep-resep mereka. Hadiahnya bisa bermacam-macam, dari dibiayai pendidikan lanjutnya sampai diberikan mobol mewah terbaru. Miris bagaimana kesehatan pasien menjadi barang dagangan semata di kalangan oknum dokter yang takubahnya seperti agen obat itu. Tapi saya yakin, tidak semua dokter punya prinsip demikian. Ada juga dokter yang masih memiliki integritas tinggi dan membaktikan hidupnya demi nilai-nilai kemanusiaan. Saya pernah menemui salah satu dari dokter yang seperti itu. Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan menjadi relawan jurnalistik Dompet Dhuafa dan diminta untuk mewawancarai beberapa dokter yang menjadi relawan medis di sana. N…

Tiga Pertanyaan

Pendidikan Interprofesional (IPE) Profesi Kesehatan di Indonesia

: Obat Manjur Bagi Prasangka Profesi
Bila berbicara tentang prasangka negatif terhadap profesi kesehatan lain, mau tidak mau saya jadi teringat dengan peristiwa sepuluh tahun lalu, saat saya masih bertugas sebagai asisten apoteker di sebuah apotek swasta di bilangan Jakarta Barat. Saat itu saya baru lulus SMF (dahulu masih bernama SMF, kalau sekarang sudah menjadi SMK Farmasi). Ketika itu saya mendapat giliran tugas pagi, sedangkan senior saya tugas malam. Apoteker apotek pun sepagi itu sedang tugas mengajar di SMF binaannya. Kemudian datanglah seorang pasien manula membawa selembar resep yang ternyata ditulis dr. X yang terkenal tulisannya sulit dibaca. Keringat dingin langsung mengucur dari tubuh saya, tapi jelas saya tidak boleh menolak resep. Saya bisa kena omel pimpinan apotek kalau ketahuan dan kasihan juga pasien malang itu. Juru racik saya yang baik menyarankan agar menelpon dokternya langsung untuk konfirmasi isi resepnya. Saran itu tidak langsung saya iyakan karena teringat t…