Langsung ke konten utama

Penyuluhan TB di Sekolah: Cara Efektif Menemukan Penderita TB


TB merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Gejala utama TB berupa batuk berdahak yang berkepanjangan disertai dahak yang berdarah, penurunan berat badan yang signifikan, keletihan yang sangat, keringat di waktu malam, dan demam. Meskipun ada juga penyakit lain dengan gejala yang serupa, tetapi bila kita mengalami gejala seperti yang telah disebutkan tadi, kita perlu waspada dan memeriksakan kesehatan langsung ke Unit Pelayanan Kesehatan terdekat.

Mengapa? Karena TB merupakan penyakit yang cukup menakutkan. TB memakan korban paling banyak di Indonesia dan menjadikan Indonesia sebagai negara ke-4 dengan jumlah penderita TB terbesar. Diperkirakan ada 0,4 – 0,5 juta orang penderita di Indonesia (WHO). Angka ini diperkirakan masih lebih kecil dari faktanya di lapangan, dalam artian angka ini hanya mencakup jumlah kasus yang dilaporkan ke WHO saja. Bagaimana dengan penderita yang belum terdeteksi? Bagaimana cara menemukan mereka? Apalagi penyakit ini bersifat mudah menular lewat kontaminasi butir air ludah penderita di udara. Bila penderita TB tidak segera ditemukan dan diberikan pengobatan yang layak, tanpa sadar, mereka akan menularkan penyakitnya pada orang lain.

Dalam buku Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, kegiatan penemuan pasien mencakup pencarian terduga penderita TB, diagnosis penyakit, penentuan klasifikasi TB dan tipe pasien. Dari informasi tersebut kita bisa lihat bahwa memang penemuan pasien merupakan langkah pertama dalam penanggulangan TB karena dianggap dapat menurunkan kesakitan dan kematian, dan juga mencegah penularan lebih lanjut di komunitas masyarakat.

Selama ini penemuan penderita TB paling efektif secara biaya adalah melalui penyuluhan kesehatan. Dan biasanya penyuluhan itu dilakukan di tengah masyarakat biasa, lewat ibu-ibu PKK dan komunitas sosial kemasyarakatan lainnya. Sekolah kurang dilirik dalam kegiatan penyuluhan kesehatan semacam ini. Padahal, penyuluhan ke sekolah ini dapat berjalan efektif karena masyarakat akademisi sekolah cenderung terbuka dan proaktif.

Penyuluhan dapat diberikan ke orangtua murid saat pengambilan rapot misalnya, sedangkan penyuluhan pada anak sekolah dapat dilakukan setiap saat. Dengan pemberian penyuluhan ini diharapkan orangtua dan murid menjadi lebih waspada terhadap gejala penyakit TB yang bisa saja dialami mereka ataupun orang-orang terdekat mereka. Dan mengetahui tindakan apa saja yang harus dilakukan untuk mencegah TB dan juga tindakan apa saja yang harus dilakukan bila mengalami gejala seperti TB. Apalagi bila masyarakat sekolah juga dilibatkan sebagai agen penyuluh untuk menemukan penderita TB secara aktif dari pintu ke pintu di sekitar wilayah domisili mereka.



">

Komentar

  1. TB = Tubercolosis, selama ini masih dianggap penyakit kutukan yang hanya diderita oleh orang miskin. Sehingga jarnag sekali orang kesehatan yang peduli terhadap ini. hmmmm dengan adanya tulisan ini, bisa menjadi alternatif yang membuat orang memahami penyakit ini dan jadinya nanti peduli...

    nice artikel

    BalasHapus
  2. Terima kasih kunjungannya y

    BalasHapus
  3. banyak lagi menulis artikel yang beginian mba..ini sangat membantu untuk masyarakat awam yang jarang dijamah oleh para dokter dalam bentuk penyuluhan

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC–Dokter Pegiat ASI yang Pemberani

Pernahkah Anda mendengar cerita tentang dokter yang “berselingkuh” dengan industri farmasi dan industri kesehatan? Saya pernah mendengar hal semacam itu dan beberapa orang kenalan saya memang membenarkan kalau itu terjadi. Katanya memang ada perusahaan farmasi yang menawarkan “hadiah” kepada para dokter yang mau menuliskan obat produksi mereka dalam resep-resep mereka. Hadiahnya bisa bermacam-macam, dari dibiayai pendidikan lanjutnya sampai diberikan mobol mewah terbaru. Miris bagaimana kesehatan pasien menjadi barang dagangan semata di kalangan oknum dokter yang takubahnya seperti agen obat itu. Tapi saya yakin, tidak semua dokter punya prinsip demikian. Ada juga dokter yang masih memiliki integritas tinggi dan membaktikan hidupnya demi nilai-nilai kemanusiaan. Saya pernah menemui salah satu dari dokter yang seperti itu. Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan menjadi relawan jurnalistik Dompet Dhuafa dan diminta untuk mewawancarai beberapa dokter yang menjadi relawan medis di sana. N…

Tiga Pertanyaan

Pendidikan Interprofesional (IPE) Profesi Kesehatan di Indonesia

: Obat Manjur Bagi Prasangka Profesi
Bila berbicara tentang prasangka negatif terhadap profesi kesehatan lain, mau tidak mau saya jadi teringat dengan peristiwa sepuluh tahun lalu, saat saya masih bertugas sebagai asisten apoteker di sebuah apotek swasta di bilangan Jakarta Barat. Saat itu saya baru lulus SMF (dahulu masih bernama SMF, kalau sekarang sudah menjadi SMK Farmasi). Ketika itu saya mendapat giliran tugas pagi, sedangkan senior saya tugas malam. Apoteker apotek pun sepagi itu sedang tugas mengajar di SMF binaannya. Kemudian datanglah seorang pasien manula membawa selembar resep yang ternyata ditulis dr. X yang terkenal tulisannya sulit dibaca. Keringat dingin langsung mengucur dari tubuh saya, tapi jelas saya tidak boleh menolak resep. Saya bisa kena omel pimpinan apotek kalau ketahuan dan kasihan juga pasien malang itu. Juru racik saya yang baik menyarankan agar menelpon dokternya langsung untuk konfirmasi isi resepnya. Saran itu tidak langsung saya iyakan karena teringat t…