Langsung ke konten utama

Apa yang Kamu Bayangkan Bila Berbicara Tentang CInta?

Judul tulisan di atas terkesan galau. Dan sebenarnya maksud aku menulis ini hanya supaya blog ini tidak diisi tulisan untuk ikut lomba saja. Hahahaha. Nah, kalau bicara hal lain, otakku terkadang gak sampai, jadi mending kita bahas hal yang sejauh aku tahu, aku lumayan ahlinya :D

Bila pertanyaan di atas diajukan kepadaku, jawabanku adalah:

Rumah kecil di tengah halaman rumah yang luas dengan hiasan bunga di sana-sini, tentu dengan lokasi penanaman yang sudah diperhitungkan benar-benar nilai estetikanya. Ada anak-anak kecil berlarian di halaman hijau rumah itu. Mungkin kamu bertanya di mana aku? Itu! Aku di situ! Di depan teras rumah sedang menikmati teh manis hangat sambil membaca buku di samping sang kekasih idaman dunia-akhirat. Sesekali melongok ke arah anak-anak kami yang masih asyik berkejaran dengan sesamanya atau dengan kelinci-kelinci perliharaan. Sesekali juga kami saling berpandangan sambil tersenyum bahagia, seolah hati-hati kami saling terkoneksi dan berbicara satu sama lain,

"Terima kasih untuk sore indah yang ke sekian kalinya bersamamu, sayangku." 
"Justru aku yang harusnya berterimakasih padamu." 
"Tunggu, manisku! Daripada kita saling bertengkar gara-gara perihal sepele seperti ini, mari kita sama-sama berterima kasih pada Tuhan kita yang menganugerahkan segala kebahagiaan ini pada keluarga kecil kita!"
"Ah, aku harusnya belajar lebih alim lagi sepertimu, sayangku."


Lalu udara mengirimkan kecupan kecil taktampak pada pipinya, sang belahan jiwa.

Sederhanakah jawabanku ketika membayangkan cinta? Bisa iya, bisa jadi tidak.

Sederhana karena memang cinta butuh legitimasi hukum dan agama lewat pernikahan, Jadi, cinta = menikah. <<------- bikin="" galau.="" p="">
Sederhana kan?

Tapi bisa jadi jawabanku ini rumit. Karena toh sampai sekarang belum juga menikah, padahal........ (titik-titik hanya boleh dijawab olehku disaksikan Tuhanku).

Begitulah!

Komentar

  1. Cinta ohhhh cinta ini juga berat sebenarnya bahasannya :P

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC–Dokter Pegiat ASI yang Pemberani

Pernahkah Anda mendengar cerita tentang dokter yang “berselingkuh” dengan industri farmasi dan industri kesehatan? Saya pernah mendengar hal semacam itu dan beberapa orang kenalan saya memang membenarkan kalau itu terjadi. Katanya memang ada perusahaan farmasi yang menawarkan “hadiah” kepada para dokter yang mau menuliskan obat produksi mereka dalam resep-resep mereka. Hadiahnya bisa bermacam-macam, dari dibiayai pendidikan lanjutnya sampai diberikan mobol mewah terbaru. Miris bagaimana kesehatan pasien menjadi barang dagangan semata di kalangan oknum dokter yang takubahnya seperti agen obat itu. Tapi saya yakin, tidak semua dokter punya prinsip demikian. Ada juga dokter yang masih memiliki integritas tinggi dan membaktikan hidupnya demi nilai-nilai kemanusiaan. Saya pernah menemui salah satu dari dokter yang seperti itu. Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan menjadi relawan jurnalistik Dompet Dhuafa dan diminta untuk mewawancarai beberapa dokter yang menjadi relawan medis di sana. N…

Tiga Pertanyaan

Pendidikan Interprofesional (IPE) Profesi Kesehatan di Indonesia

: Obat Manjur Bagi Prasangka Profesi
Bila berbicara tentang prasangka negatif terhadap profesi kesehatan lain, mau tidak mau saya jadi teringat dengan peristiwa sepuluh tahun lalu, saat saya masih bertugas sebagai asisten apoteker di sebuah apotek swasta di bilangan Jakarta Barat. Saat itu saya baru lulus SMF (dahulu masih bernama SMF, kalau sekarang sudah menjadi SMK Farmasi). Ketika itu saya mendapat giliran tugas pagi, sedangkan senior saya tugas malam. Apoteker apotek pun sepagi itu sedang tugas mengajar di SMF binaannya. Kemudian datanglah seorang pasien manula membawa selembar resep yang ternyata ditulis dr. X yang terkenal tulisannya sulit dibaca. Keringat dingin langsung mengucur dari tubuh saya, tapi jelas saya tidak boleh menolak resep. Saya bisa kena omel pimpinan apotek kalau ketahuan dan kasihan juga pasien malang itu. Juru racik saya yang baik menyarankan agar menelpon dokternya langsung untuk konfirmasi isi resepnya. Saran itu tidak langsung saya iyakan karena teringat t…