Langsung ke konten utama

Ekonomi Syariah Menebar Berkah


Sebagai seorang muslim, tentu saya percaya bahwa semua aturan yang diperintahkan Alloh Ta’ala kepada umat-Nya adalah baik atau sekurang-kurangnya bermanfaat bagi diri kita sendiri. Termasuk aturan-Nya untuk menjauhi riba. Cukup banyak ayat dan hadits yang membahas perkara ini.

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan bergelimang dosa.” (QS. Al Baqarah: 276)

Dalam ayat lain Allah berfirman:

“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar harta manusia bertambah, maka tidak bertambah dalam pandangan Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk memperoleh keridaan Allah, maka itulah orang- orang yang melipatgandakan (pahalanya).” (QS. Ar Ruum : 39)

Dan banyak lagi nash ayat lainnya yang membahas tentang kerasnya pelarangan praktik riba di kalangan muslim. Selain dalil Al-Qur’an, banyak hadits juga yang secara jelas melarang umat Islam terlibat dalam riba. Salah satu di antaranya adalah:

Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata,
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, orang yang menyerahkan riba (nasabah), pencatat riba (sekretaris) dan dua orang saksinya.” Beliau mengatakan, “Mereka semua itu sama.”(HR. Muslim no. 1598)

Dua jenis dalil pegangan ini (Al-Quran dan hadits) seharusnya telah cukup menjadi petunjuk dan peringatan bagi umat Islam untuk menjauhi praktik riba. Tapi kenyataannya, perekonomian Indonesia dan dunia sudah kadung terbelit dalam sistem riba. Padahal, sistem riba ini hanya akan menguntungkan salah satu pihak saja, yaitu pihak pemilik modal saja. Akibatnya sistem konvensional berbasis riba ini cenderung sulit dihindari pada praktiknya oleh sebagian besar umat Islam sehingga sempat membuat umat Islam terlupa kalau ada sistem ekonomi lain yang lebih berkah dan menguntungkan. Ya, sistem ekonomi syariah.

Kita boleh menarik napas lega karena beberapa waktu belakangan sistem ekonomi Islam mulai bangkit dari tidur panjangnya dan telah dilirik oleh banyak lembaga keuangan konvensional. Apalagi sejak krisis ekonomi 2007 yang melanda dunia dan membuat sistem riba yang dijalankan oleh banyak lembaga keuangan konvensional pada akhirnya semakin menampakkan kekurangannya.

Pada tahun 2007 lalu Amerika Serikat mulai dilanda krisis ekonomi yang kemudian menyebar sampai ke Eropa. Penyebaran krisis ini terjadi karena jalinan perekonomian antara keduanya saling berkelindan sehingga saling pengaruh-memengaruhi. Kondisi krisis tersebut bukan tanpa sebab. Ya, riba adalah akar masalahnya. Riba yang dimaksud di sini adalah riba karena pembiayaan kredit perumahan di Amerika Serikat sana dan perilaku refinancing masyarakat yang mencicil KPR karena mengharapkan keuntungan cepat. Karena semuanya berperilaku seperti itu dan tergiur dengan keuntungan dari refinancing yang cukup besar, akhirnya lembaga keuangan mulai tidak sanggup memberikan pinjaman dan membuat produk keuangan lain untuk menutupi permintaan KPR masyarakat yang membludak. Karena permintaan KPR banyak, harga properti pun meningkat. Demikian juga dengan inflasi dan suku bunganya. Akibatnya, sebagian besar masyarakat yang sebenarnya tidak layak mendapatkan pinjaman KPR pun tidak mampu membayar cicilannya sehingga menyebabkan bisnis properti Amerika Serikat yang semula berkilau langsung ambruk dan tidak bisa membayar hutangnya yang berbunga pula kepada bank. Kondisi keterpurukan ekonomi Amerika Serikat ini menular ke negara-negara lain lewat sektor perbankan dan perdagangan.

Bukti lain dari kekurangan ekonomi konvensional adalah ketika Indonesia yang notabene bukanlah negara maju malah berhasil selamat dari krisis ekonomi dunia tahun 2007. Apa pasal? Ternyata karena sokongan dari industri UMKM kita. UMKM tersebut dimotori oleh individu atau kelompok mandiri (rakyat) dengan modal mikro yang berasal dari kocek sendiri ataupun pembiayaan dari banyak BMT tanpa pembiayaan dari bank konvensional―khususnya UMKM yang bergerak di bidang pertanian―sehingga relatif lebih mampu bertahan bila dibandingkan dengan usaha makro ekonomi di Indonesia yang sebagian besar mendapatkan bantuan kredit permodalan dari bank konvensional yang berbasis riba.

Ini jugalah yang semakin menyadarkan banyak lembaga keuangan konvensional lain dan mereka kemudian ramai-ramai membuat anak usaha yang berbasis syariah. Terbukti HSBC, Citibank, dan SCB pun mulai melakoni bisnis syariah ini. Takheran bila kemudian sistem ekonomi syariah menjadi sektor yang berkembang dalam sistem ekonomi dunia dan pertumbuhannya mencapai 12 sampai 15% per tahun. Bahkan pada tahun 2011 pendapatan tahunan Inggris meningkat sebesar £18 milyar melalui sistem ekonomi syariah.

Tapi apa sebenarnya kelebihan ekonomi syariah sehingga raksasa lembaga keuangan semacam Citibank pun ikut latah membuka subbisnis syariah juga?

Menurut kaca mata awam saya adalah karena sistem ekonomi syariah ini tidak menerapkan sistem bunga pinjaman. Ini membuat peminjam hanya akan membayarkan pinjaman sesuai dengan jumlah awalnya. Ada pun keuntungan yang didapat dari pihak lembaga keuangan sebagai pemberi pinjaman berasal dari sistem bagi hasil penggunaan dana sebagai modal kerja. Sistem ini membuat peminjam merasa lebih nyaman dan tidak terberatkan oleh suku bunga pinjaman yang bisa berubah-ubah sebagaimana yang ada pada sistem keuangan ribawi. Alhasil, peminjam pun mampu melunasi cicilan pinjamannya.

Ekonomi syariah juga menghindari bisnis yang bersifat spekulatif. Jadi nasabah yang mempercayakan dananya pada lembaga keuangan syariah tidak akan dilanda kekhawatiran suatu saat dananya hilang karena harga saham yang anjlok, misalnya.

Memang pada dasarnya sistem ekonomi syariah ini menguntungkan bagi banyak pihak. Bahkan Vatikan pun menyatakan kalau prinsip keuangan Islam (syariah) ini dapat menjadi penyembuh bagi ekonomi dunia yang sedang sakit. Ini berarti memang ekonomi syariah telah menjadi berkah bagi banyak pihak, sebagaimana Islam menjadi rahmat bagi semesta alam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC–Dokter Pegiat ASI yang Pemberani

Pernahkah Anda mendengar cerita tentang dokter yang “berselingkuh” dengan industri farmasi dan industri kesehatan? Saya pernah mendengar hal semacam itu dan beberapa orang kenalan saya memang membenarkan kalau itu terjadi. Katanya memang ada perusahaan farmasi yang menawarkan “hadiah” kepada para dokter yang mau menuliskan obat produksi mereka dalam resep-resep mereka. Hadiahnya bisa bermacam-macam, dari dibiayai pendidikan lanjutnya sampai diberikan mobol mewah terbaru. Miris bagaimana kesehatan pasien menjadi barang dagangan semata di kalangan oknum dokter yang takubahnya seperti agen obat itu. Tapi saya yakin, tidak semua dokter punya prinsip demikian. Ada juga dokter yang masih memiliki integritas tinggi dan membaktikan hidupnya demi nilai-nilai kemanusiaan. Saya pernah menemui salah satu dari dokter yang seperti itu. Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan menjadi relawan jurnalistik Dompet Dhuafa dan diminta untuk mewawancarai beberapa dokter yang menjadi relawan medis di sana. N…

Tiga Pertanyaan

Pendidikan Interprofesional (IPE) Profesi Kesehatan di Indonesia

: Obat Manjur Bagi Prasangka Profesi
Bila berbicara tentang prasangka negatif terhadap profesi kesehatan lain, mau tidak mau saya jadi teringat dengan peristiwa sepuluh tahun lalu, saat saya masih bertugas sebagai asisten apoteker di sebuah apotek swasta di bilangan Jakarta Barat. Saat itu saya baru lulus SMF (dahulu masih bernama SMF, kalau sekarang sudah menjadi SMK Farmasi). Ketika itu saya mendapat giliran tugas pagi, sedangkan senior saya tugas malam. Apoteker apotek pun sepagi itu sedang tugas mengajar di SMF binaannya. Kemudian datanglah seorang pasien manula membawa selembar resep yang ternyata ditulis dr. X yang terkenal tulisannya sulit dibaca. Keringat dingin langsung mengucur dari tubuh saya, tapi jelas saya tidak boleh menolak resep. Saya bisa kena omel pimpinan apotek kalau ketahuan dan kasihan juga pasien malang itu. Juru racik saya yang baik menyarankan agar menelpon dokternya langsung untuk konfirmasi isi resepnya. Saran itu tidak langsung saya iyakan karena teringat t…