Langsung ke konten utama

Eka dan Eki, Si Kembar Penjual Kerak Telur

Eka beraksi membuat kerak telur
Kemarin selepas menonton drama musikal keren "Ariah" yang membuat aku nge-fans sama rambut panjang pemeran utama perempuannya, aku dan Bara the kakak kos menyempatkan membeli kerak telur yang menjadi andalan Jakarta. Harganya 20 ribu kalau pakai telur bebek, dan 15 ribu kalau telur ayam. Rasanya sih seperti kerak telur kebanyakan, tapi yang membuat agak beda adalah penjualnya. Kerak telur yang notabene makanan betawi ditawarkan oleh penjual dengan logat ibu saya, sunda. Ya, sunda! Awalnya aku kira salah dengar, tapi setelah mengobrol cukup intens dengan sang penjual, aku tahu kalau kupingku benar, pedagangnya orang Garut asli.

Namanya Eka, umur jalan 20 tahun dan berdagang kerak telur hanya saat ultah Jakarta saja. Di luar bulan ultah jakarta, dia bekerja di kampung bantu-bantu orangtuanya bersawah-ladang. Dia sudah berjualan kerak telur sejak usia 14 tahun. Perawakan Eka kecil sekali, lebih pendek dariku dan kurus. Wajahnya polos, sepertinya tidak kenal fesbuk dan twitter. Bulu matanya lentik, hitam manis, ada kumis tipis di atas bibirnya. Aku jadi ingat adik laki-laki saya.

"Sekolah saya cuma sampai kelas 6 SD, teh...gak ada biaya lagi."

Itu jawab Eka saat aku bertanya tentang sekolahnya. Miris. Waktu aku bertanya lebih lanjut lagi karena setahuku kan sekolah gratis, Eka bilang iya sekolah gratis tapi bukunya bayar. Aku tidak berani bertanya lagi apa Eka mau meneruskan sekolah atau tidak, takut membuat dia malah sedih. Dari pengakuan Eka ternyata satu kampungnya di Garut ikutan jualan seperti ini dengan model setoran ke pemilik gerobak kerak telurnya. Saat aku bertanya dan menunjuk tukang kerak telur yang ada di samping kanan kami apakah dia juga dari Garut, Eka tersenyum dan malah bilang kalau di sebelah itu adalah adiknya.

Aku tertawa dan bilang, "pantas mirip!"

"Memang mirp Teh, kami kembar."

Aku langsung terperangah, karena memang benar kembar mereka. Dengan nada bercanda aku bertanya, "Jangan bilang ya kalau nama adikmu itu Eki!"

"Iya teh, namanya Eki."

Kami pun tertawa.

Perjalanan malam kemarin benar-benar berbekas buatku. Karena bertemu kenalan baru yang menurutku sangat hebat dan keren. Jauh lebih keren dari anak kota yang cuma bisa merengek uang ke orangtuanya kalau menginginkan sesuatu. Ya, jauh lebih keren dari mereka walaupun Eka dan Eki tidak memiliki hape, apalagi hape android ataupun WP, tidak kenal fesbuk, twitter, WA, line, dan tablet yang menjadi syarat gaulnya anak muda zaman sekarang.

Mereka keren meskipun hanya memakai kaos lusuh dengan jins belel sambil membawa gerobak kerak telur yang mereka pikul di bahu kanan mereka.

Jadi, kalau kalian kebetulan saat momen ultah Jakarta, jalan ke Monas atau PRJ lalu bertemu seorang anak muda Garut yang kurus-kecil dengan bulu mata lentik dan wajah manis, yang berjualan kerak telur, lalu  ternyata di sebelahnya ada penjual kerak telur lain yang wajahnya sama persis. Itulah mereka yang aku ceritakan tadi. Eka dan Eki, si kembar penjual kerak telur. Salam buat mereka dariku, fans baru mereka ^^

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC–Dokter Pegiat ASI yang Pemberani

Pernahkah Anda mendengar cerita tentang dokter yang “berselingkuh” dengan industri farmasi dan industri kesehatan? Saya pernah mendengar hal semacam itu dan beberapa orang kenalan saya memang membenarkan kalau itu terjadi. Katanya memang ada perusahaan farmasi yang menawarkan “hadiah” kepada para dokter yang mau menuliskan obat produksi mereka dalam resep-resep mereka. Hadiahnya bisa bermacam-macam, dari dibiayai pendidikan lanjutnya sampai diberikan mobol mewah terbaru. Miris bagaimana kesehatan pasien menjadi barang dagangan semata di kalangan oknum dokter yang takubahnya seperti agen obat itu. Tapi saya yakin, tidak semua dokter punya prinsip demikian. Ada juga dokter yang masih memiliki integritas tinggi dan membaktikan hidupnya demi nilai-nilai kemanusiaan. Saya pernah menemui salah satu dari dokter yang seperti itu. Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan menjadi relawan jurnalistik Dompet Dhuafa dan diminta untuk mewawancarai beberapa dokter yang menjadi relawan medis di sana. N…

Tiga Pertanyaan

Pendidikan Interprofesional (IPE) Profesi Kesehatan di Indonesia

: Obat Manjur Bagi Prasangka Profesi
Bila berbicara tentang prasangka negatif terhadap profesi kesehatan lain, mau tidak mau saya jadi teringat dengan peristiwa sepuluh tahun lalu, saat saya masih bertugas sebagai asisten apoteker di sebuah apotek swasta di bilangan Jakarta Barat. Saat itu saya baru lulus SMF (dahulu masih bernama SMF, kalau sekarang sudah menjadi SMK Farmasi). Ketika itu saya mendapat giliran tugas pagi, sedangkan senior saya tugas malam. Apoteker apotek pun sepagi itu sedang tugas mengajar di SMF binaannya. Kemudian datanglah seorang pasien manula membawa selembar resep yang ternyata ditulis dr. X yang terkenal tulisannya sulit dibaca. Keringat dingin langsung mengucur dari tubuh saya, tapi jelas saya tidak boleh menolak resep. Saya bisa kena omel pimpinan apotek kalau ketahuan dan kasihan juga pasien malang itu. Juru racik saya yang baik menyarankan agar menelpon dokternya langsung untuk konfirmasi isi resepnya. Saran itu tidak langsung saya iyakan karena teringat t…