Langsung ke konten utama

Sosialisasi Obat Generik Lewat Media Sinetron dan Twitter

Murah. Barangkali itu kata pertama yang terlintas di benak kita jika mendengar kata obat generik atau obat generik berlogo (OGB) dan tidak bisa dipungkiri kesan pertama yang melekat dengan “murah” adalah murahan. Apalagi adanya adagium ‘ada harga, ada kualitas’ yang benar-benar dipegang oleh masyarakat kita. Tapi―benarkah keyakinan semacam itu bila dikaitkan dengan OGB yang harganya jauh di bawah obat dengan nama dagang? Karena masih banyak masyarakat umum yang memiliki persepsi bahwa obat generik itu disubsidi pemerintah dan dikhususkan untuk orang miskin. Kalau seperti itu persepsi mereka, bukan tidak mungkin yang ada di benak mereka, OGB semacam raskin (beras miskin) yang berkutu dan apek! Padahal tidak demikian adanya. Kekhawatiran akan kualitas obat generik itu sebenarnya akan terjawab dengan sendirinya bila masyarakat kita memahami apa itu OGB dan bagaimana mekanisme pembuatan dan izin peredarannya di Indonesia.

Obat yang beredar di masyarakat sebenarnya terbagi menjadi dua jenis, yaitu obat paten dan obat generik. Kita bisa mengatakan kalau obat paten sebagai obat inisiator/inovator, yang artinya obat tersebut pertama kali diproduksi oleh perusahaan yang pertama membuatnya. Karena merupakan inisiator, berarti perusahaan tersebut mengeluarkan dana yang sangat mahal untuk pembiayaan semua kegiatan, mulai dari tahap penelitian, studi preklinik, studi klinik, proses pengajuan izin, proses penjualan dan promosi, serta studi postmarketing. Tentu tidak heran jika harga obat paten yang merupakan obat baru itu memiliki harga yang mahal. Selain itu, obat paten juga diberikan hak istimewa, yaitu hak paten. Hak tersebut membuat perusahaan lain tidak boleh membuat obat dengan bahan aktif sejenis dengan obat paten tersebut. Perlu juga diketahui bahwa hak paten berlaku cukup lama, yaitu selama 20 tahun.

Lain obat paten, lain pula obat generik. Obat generik baru boleh diproduksi oleh perusahaan lain jika obat paten dengan bahan aktif tersebut telah habis masa patennya (karena itu disebut juga produk copy atau produk me too). Obat generik dibedakan menjadi dua jenis lagi, yaitu obat generik bermerek dagang dan obat generik berlogo. Perbedaan di antara keduanya adalah obat generik bermerk dagang diberi nama dagang sesuai keinginan perusahaan pembuatnya, sedangkan obat generik berlogo adalah obat yang dipasarkan dengan nama sesuai kandungan zat aktifnya, namun tetap mencantumkan logo perusahaan pembuatnya pada kemasan.

Obat generik berlogo diperkenalkan oleh pemerintah sejak tahun 1991 dengan tujuan awal untuk memenuhi kebutuhan obat bagi kalangan masyarakat menengah ke bawah. Namun mengingat kualitas obat generik berlogo yang tidak kalah dengan obat bermerk, seharusnya masyarakat menengah ke atas pun dapat mengonsumsinya juga. Obat generik memiliki kualitas yang tidak kalah dengan obat paten karena pembuatan dan perizinannya tidak sembarang. Meskipun perusahaan pembuat obat generik berlogo tidak melakukan uji klinis (yang memakan biaya sangat besar) seperti pada obat paten, namun OGB sebelum beredar di masyarakat harus lulus uji BA/BE (Bioavaibilitas/bioekivalensi) terlebih dahulu. Uji BA/BE ini jauh lebih sederhana bila dibandingkan uji klinis pada obat paten. Meskipun demikian, uji ini tetap dapat menjamin bahwa efikasi, keamanan, dan mutu obat generik telah setara dengan obat patennya karena dilakukan dengan cara mengukur dan membandingkan kadar obat generik dalam darah tiap waktunya terhadap kadar obat patennya dalam darah. Bila kadar obat generik dalam darah pada waktu tertentu sama dengan kadar obat patennya dalam darah di waktu yang sama, tentu efek yang diberikan pun akan sama juga.

Berdasarkan fakta tersebut, seharusnya penjualan obat generik tidak mandek. Tapi seperti yang dilansir dari tempo.co, ternyata konsumsi obat generik di Indonesia pada tahun 2010 hanya sekitar 8-11 persen dari total konsumsi obat nasional! Volume penjualannya sendiri masih jauh dari yang harapkan, yaitu hanya sebesar 38 persen, sedangkan negara lain sudah mencapai 70-80 persen.

Peran dokter dalam meresepkan OGB juga masih terbilang minim dan permintaan masyarakat kepada dokter untuk meresepkan OGB bagi penyakitnya masih sangat kurang. Peresepan obat generik oleh dokter di rumah sakit pemerintah pada tahun 2010 hanya sebesar 66 persen dan di rumah sakit swasta sebesar 49 persen, masih jauh dari harapan! Perlu diingat bahwa faktor rendahnya penggunaan obat generik bukan semata karena persepsi masyarakat yang salah, permintaan, dan kebutuhan masyarakat akan obat generik di rumah sakit saja, tetapi lebih disebabkan karena masih rendahnya pengetahuan masyarakat tentang obat generik (Handayani, 2007).

Lalu bagaimana cara menyiasati hal itu? Kita dapat memulai pencarian strategi sosialisasi yang tepat bagi masyarakat dengan cara membagi konsumen menjadi dua kelompok besar, yaitu konsumen menengah ke bawah dan menengah ke atas. Cara sosialisasi untuk kedua golongan tersebut tentu akan jauh berbeda karena faktor perbedaan latar belakang pendidikan dan gaya hidup yang menjadi faktor penentu preferensi mereka.

Berdasarkan hal tersebut, saya merekomendasikan sosialisasi penggunaan OGB lewat sinetron untuk menyentuh audiens kelas menengah ke bawah dan via media sosial Twitter untuk kalangan menengah ke atas.

Rekomendasi tersebut bukan tanpa dalil yang jelas. AC Nielsen mencatat bahwa pemirsa sinetron di dominasi oleh perempuan dengan usia 30 tahun ke atas dan berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Sebagaimana kita ketahui, kebanyakan pemegang kendali keputusan belanja rumah tangga adalah ibu rumah tangga. Demikian juga untuk belanja obat, sehingga kita dapat mengasumsikan bila ibu—dari kalangan menengah ke bawah—memahami apa dan bagaimana generik itu dari dialog sinetron yang dia tonton, tentu dia akan terpengaruh untuk melakukan hal yang sama (menggunakan OGB dalam mengatasi penyakitnya dan keluarganya).

Sedangkan Twitter untuk kalangan menengah ke atas karena didasarkan fakta bahwa kelompok masyarakat yang melek teknologi dan terkoneksi ke internet didominasi oleh kalangan menengah ke atas. Menurut internetworldstats, jumlah pengguna internet di Indonesia untuk tahun 2009 adalah urutan 13 di dunia, dengan jumlah 30 juta orang, 12,5 persen dari total populasi. Dari data Kominfo pada tahun 2012, pengguna Twitter di Indonesia sudah mencapai angka 19, 5 juta orang. Tentu jumlah audiens sebanyak ini layak untuk digarap lebih lanjut dalam rangka sosialisasi penggunaan OGB secara meluas.

Promosi OGB di Sinetron
Sinetron boleh jadi adalah sarana sosialisasi yang sangat efektif bagi kampanye penggunaan OGB. Pada tahun 2011 saja, lembaga riset Nielsen telah mencatat adanya peningkatan jumlah penonton sinetron sampai 51 persen menjadi 1,4 juta orang, dari sebelumnya di tahun 2010 yang hanya sekitar 969 ribu orang pada kuartal pertama 2010. Survei yang dilakukan Nielsen pada populasi televisi yang terdiri atas 49,5 juta individu (dengan usia di atas lima tahun, penelitian diadakan di sepuluh kota besar) tersebut ternyata juga menunjukkan data kenaikan waktu menonton sinetron. Bila pada kuartal pertama tahun 2010 waktu menonton serial sinetron total 42 jam, pada tahun 2011 meningkat menjadi 64 jam (antaranews.com).

Mengingat volume audiens dan jumlah waktu menonton yang tinggi itu, tentu paparan kampanye “terselubung” via sinetron akan menjadi sangat efektif karena dapat langsung mencapai audiens luas. Tayangan sinetron juga memiliki dampak psikologis yang membekas di pemirsanya, sehingga diharapkan informasi yang diselipkan dalam sinetron mengenai OGB akan mendorong mereka mengonsumsi OGB dan meminta dokter mereka meresepkan OGB untuk mereka. Sebagai contoh membekasnya pengaruh sinetron terhadap pemirsanya adalah fenomena tidak jarangnya persepsi dan perlakuan negatif yang diterima oleh pemeran karakter antagonis yang tampil dalam sinetron tertentu dalam kehidupan pribadinya. Misalnya yang terjadi kepada Latief Sitepu, pemeran karakter antagonis Haji Muhidin dalam sinetron yang sedang naik daun saat ini “Tukang Bubur Naik Haji.’ Dia mengaku sering mendapat perlakuan tidak menyenangkan di kehidupan nyatanya. Dia menceritakan bahwa suatu malam ketika berobat ke apotek bersama istrinya dan sedang antre resep dokter, tiga ibu-ibu mendatanginya dan langsung menonjok keras perutnya hingga kesakitan dan menyiram dengan air bekas kopi. Saya rasa itu cukup menjawab bagaimana dahsyatnya dampak tayangan sinetron bagi penggemarnya.

Profesi dokter atau gambaran tentang apotek juga sering kali menghiasi layar sinetron kita. Sebuah tulisan dalam remotivi.com mengkaji 4 sinetron yang cukup tenar pada tahun 2012, yaitu Putih Abu-abu, Yusra dan Yumna, Cinta Salsabilla, dan Karunia. Dalam semua sinetron itu terdapat karakter atau profesi dokter. Memang, karakter dokter merupakan karakter paling sering digambarkan dalam sinetron.

Terlepas dari ketidaksesuaian penggambaran profesi dokter dalam sinetron, kita tetap dapat memanfaatkan popularitas profesi dokter dalam sinetron itu, misalnya dengan cara menyisipkan dialog atau adegan karakter yang meminta diresepkan OGB kepada dokter. Atau mungkin adegan atau dialog yang menyiratkan pemeran utamanya ingin minum OGB dan menjelaskan sekilas alasan si tokoh memilih OGB, tentunya dengan bahasa percakapan sederhana agar tidak terkesan menggurui.

Kampanye OGB di Twitter

Statistik pengguna Twitter di Indonesia cukup mengejutkan, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, yaitu mencapai angka 19,5 juta pengguna di tahun 2012. Pengguna Twitter juga didominasi oleh mereka dari latar belakang pendidikan yang tinggi, sebanyak 48 persen lulusan perguruan tinggi dan dari kalangan pendapatan yang tinggi pula, sekitar 30 persen pengguna Twitter berasal dari keluarga yang memiliki pendapatan sebesar lebih dari 100,000 USD per tahun. Studi pemasaran membuktikan bahwa tiap pengguna Twitter hampir pasti akan membeli produk yang mereka follow (sebesar 67 persen). Ini membuktikan betapa besar pengaruh Twitter dalam memengaruhi prefensi penggunanya.

Interaksi sosial yang terjadi dalam Twitter pun sangat intens. Banyak aktivitas bersifat sosial/nirlaba yang memulai kiprahnya dari Twitter dan memiliki imbas yang tidak main-main. Gerakan/aktivitas sosial seperti yang diusung oleh @nebengers contohnya. Akun ini mengajak warga Jakarta dan sekitarnya untuk memberikan tumpangan kendaraan pribadinya kepada orang lain untuk mengurangi angka kemacetan dan konsumsi bahan bakar yang mubazir. Akun ini berkembang pesat karena mention-mention dari followernya. Selain itu, kebanyakan tokoh masyarakat atau artis yang memiliki akun Twitter juga sering kali berbalas mention dengan followernya dan terlibat dalam obrolan/diskusi aktif. Ada pula yang memanfaatkan Twitter untuk ajang kultwit, alias kuliah via Twitter yang berisi informasi edukatif yang relatif panjang sehingga dipotong menjadi beberapa bagian.

Kita ambil studi kasus @bincangedukasi, akun yang terfokus pada masalah pendidikan ini sering memberikan kultwit masalah pendidikan oleh beberapa tokoh pendidikan yang menjadi admin tamu. Setelah itu dilanjutkan dengan diskusi interaktif bersama para followernya.

Belajar dari itu semua, kita dapat manfaatkan Twitter untuk ajang sosialisasi OGB yang lebih efektif bagi kalangan menengah ke atas. Lewat akun sosialisasi itu, kita dapat ciptakan kelompok diskusi interaktif yang mencerahkan bagi masyarakat kita yang kebanyakan masih awam tentang OGB. Sesekali admin akun sosialisasi OGB dipegang oleh beberapa tokoh masyarakat untuk menyampaikan kultwit dan memoderasi diskusi yang terjadi mengenai materi yang sebelumnya disampaikan.

Selain itu, bila untuk kepentingan sosial, biasanya selebritas atau selebtwit akan merekomendasikan akun tertentu untuk difollow juga oleh follower mereka. Tentu ini akan sangat menguntungkan karena dapat menyentuh target konsumen yang besar secara efisien dan efektif.

Kesimpulan
OGB bukan merupakan obat murahan dengan kualitas yang masih dipertanyakan karena untuk diedarkan di masyarakat, OGB memerlukan pengujian BA/BE terlebih dahulu untuk memastikan efektivitasnya sepadan dengan obat paten. Karena kualitas yang tidak perlu diragukan itu, OGB seharusnya dapat dikonsumsi oleh semua kalangan dari latar belakang ekonomi yang berbeda, tanpa terkecuali. Sayangnya penggunaan OGB di Indonesia sendiri masih jauh bila dibandingkan konsumsi obat generik di negara lain sehingga perlu sosialisasi yang tepat sasaran agar dapat lebih menjangkau ke segala lapis konsumen.

Berdasarkan data survei yang ada, untuk menjangkau konsumen dari kalangan menengah bawah, sosialisasi penggunaan obat generik dapat dilakukan lewat adegan dan dialog dalam sinetron. Untuk sosialisasi OGB di kalangan menengah ke atas dapat menggunakan media sosial microblogging Twitter. Teknik tersebut diharapkan dapat membuat kalangan menengah ke atas paling tidak mengetahui kualitas dan efikasi obat generik yang setara dengan obat paten. Apalagi jika kampanye itu didukung oleh selebritis atau selebtwit yang memiliki banyak follower.

Dengan kedua teknik sosialisasi itu, semoga di masa mendatang penggunaan obat generik terus meningkat sehingga seperti amanat dalam Undang-undang kesehatan, derajat kesehatan masyarakat Indonesia dapat terus meningkat tanpa harus membebani ekonomi mereka secara keseluruhan.

Sumber Bacaan
Badan POM RI. Pedoman Uji Bioekivalensi. Diambil dari http://jdih.pom.go.id/produk/peraturan%20kepala%20BPOM/PER%20KBPOM_NO.HK.00.05.3.1818%20TH%202005_Tentang%20PEDOMAN%20UJI%20BIOEKIV_2005.pdf

Respaty, Ryeska Fajar, dkk. Kekuatan Media Sosial: kumpulan esai. Indepth Publishing. Lampung: 2013.

http://www.andryo.com/blog/pengguna-twitter-di-indonesia-dan-jakarta/ diakses pada 30 Mei 2013.

http://virtuemagz.com/facebook-twitter-2010.html. Diakses pada tanggal 30 Mei 2013.

http://www.tempo.co/read/news/2012/10/04/111433745/Latief-Sitepu-Masih-Banyak-Haji-Muhidin-Lain. Diakses pada tanggal 30 Mei 2013.

www.remotivi.com. Diakses pada tanggal 30 Mei 2013.

http://www.lawprofrank.com/2012/01/55-fakta-dan-statistik-menarik-tentang.html. Diakses pada tanggal 30 Mei 2013.

Backlink: www.dexa-medica.com


*Penulis adalah farmasis yang berprofesi sebagai editor di sebuah penerbit kedokteran.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC–Dokter Pegiat ASI yang Pemberani

Pernahkah Anda mendengar cerita tentang dokter yang “berselingkuh” dengan industri farmasi dan industri kesehatan? Saya pernah mendengar hal semacam itu dan beberapa orang kenalan saya memang membenarkan kalau itu terjadi. Katanya memang ada perusahaan farmasi yang menawarkan “hadiah” kepada para dokter yang mau menuliskan obat produksi mereka dalam resep-resep mereka. Hadiahnya bisa bermacam-macam, dari dibiayai pendidikan lanjutnya sampai diberikan mobol mewah terbaru. Miris bagaimana kesehatan pasien menjadi barang dagangan semata di kalangan oknum dokter yang takubahnya seperti agen obat itu. Tapi saya yakin, tidak semua dokter punya prinsip demikian. Ada juga dokter yang masih memiliki integritas tinggi dan membaktikan hidupnya demi nilai-nilai kemanusiaan. Saya pernah menemui salah satu dari dokter yang seperti itu. Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan menjadi relawan jurnalistik Dompet Dhuafa dan diminta untuk mewawancarai beberapa dokter yang menjadi relawan medis di sana. N…

Tiga Pertanyaan

Pendidikan Interprofesional (IPE) Profesi Kesehatan di Indonesia

: Obat Manjur Bagi Prasangka Profesi
Bila berbicara tentang prasangka negatif terhadap profesi kesehatan lain, mau tidak mau saya jadi teringat dengan peristiwa sepuluh tahun lalu, saat saya masih bertugas sebagai asisten apoteker di sebuah apotek swasta di bilangan Jakarta Barat. Saat itu saya baru lulus SMF (dahulu masih bernama SMF, kalau sekarang sudah menjadi SMK Farmasi). Ketika itu saya mendapat giliran tugas pagi, sedangkan senior saya tugas malam. Apoteker apotek pun sepagi itu sedang tugas mengajar di SMF binaannya. Kemudian datanglah seorang pasien manula membawa selembar resep yang ternyata ditulis dr. X yang terkenal tulisannya sulit dibaca. Keringat dingin langsung mengucur dari tubuh saya, tapi jelas saya tidak boleh menolak resep. Saya bisa kena omel pimpinan apotek kalau ketahuan dan kasihan juga pasien malang itu. Juru racik saya yang baik menyarankan agar menelpon dokternya langsung untuk konfirmasi isi resepnya. Saran itu tidak langsung saya iyakan karena teringat t…