Langsung ke konten utama

Hobi Baru: Mengamati Dinamika Manusia di Kerumunan

Aku punya hobi baru yang tertular dari seseorang, mengamati tingkah-polah orang-orang di kerumunan alias keramaian. Menarik karena aku berniat dan bersungguh-sungguh *mulai lebay* untuk menjadi penulis fiksi. Karena akan menulis tentang manusia, observasi tingkah manusia akan sangat penting buatku.

Kemarin contohnya. Aku ke Gramed Matraman bareng mba Bara. Di riweuh banget dan membuatku, secara aneh, merasa bahagia. Aku melihat bermacam tingkah manusia yang cukup menarik buatku dan bisa jadi bahan tulisan nanti.


Ada pasangan, mungkin suami-istri, yang berbeda usia jauh banget. Yang laki-laki udah keriput, tua, etnis Tionghoa. Nah, yang perempuan jauh lebih muda, mungkin masih 30-an awal. Make-up kinclong, cantik sih, tapi judesnya gak ketulungan. Image judesnya makin menjadi-jadi dengan tingkahnya yang mengipas-ngipas dengan kipas tangan. Persis gambaran ibu-ibu jutek di sinetron! Aku gak nyangka kalau ada manusia model begitu yang beneran di dunia nyata. Ternyata sinetron gak mengada-ada :D

Ada juga para fans Boyband gak jelas yang lagi ngadain acara book-signing di Lt.2. Heboh anak-anak labil itu! Aku ngedeketin kerumunan itu dan akhirnya menyadari kalau aku manusia paling tua di sana =))

Wah, macem-macem deh hasil pengamatanku! Akhirnya itu bikin aku tersadar dan mikir satu hal: jangan-jangan di sana ada juga orang lain yang melakukan hal sama denganku dan juga melihat aku. Lalu dia berpikir kalau aku juga lumayan aneh, kok udah tua gitu masih aja ngumpul ikut kerumunan ABEGE yang minta foto bareng Boyband =))

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC–Dokter Pegiat ASI yang Pemberani

Pernahkah Anda mendengar cerita tentang dokter yang “berselingkuh” dengan industri farmasi dan industri kesehatan? Saya pernah mendengar hal semacam itu dan beberapa orang kenalan saya memang membenarkan kalau itu terjadi. Katanya memang ada perusahaan farmasi yang menawarkan “hadiah” kepada para dokter yang mau menuliskan obat produksi mereka dalam resep-resep mereka. Hadiahnya bisa bermacam-macam, dari dibiayai pendidikan lanjutnya sampai diberikan mobol mewah terbaru. Miris bagaimana kesehatan pasien menjadi barang dagangan semata di kalangan oknum dokter yang takubahnya seperti agen obat itu. Tapi saya yakin, tidak semua dokter punya prinsip demikian. Ada juga dokter yang masih memiliki integritas tinggi dan membaktikan hidupnya demi nilai-nilai kemanusiaan. Saya pernah menemui salah satu dari dokter yang seperti itu. Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan menjadi relawan jurnalistik Dompet Dhuafa dan diminta untuk mewawancarai beberapa dokter yang menjadi relawan medis di sana. N…

Tiga Pertanyaan

Pendidikan Interprofesional (IPE) Profesi Kesehatan di Indonesia

: Obat Manjur Bagi Prasangka Profesi
Bila berbicara tentang prasangka negatif terhadap profesi kesehatan lain, mau tidak mau saya jadi teringat dengan peristiwa sepuluh tahun lalu, saat saya masih bertugas sebagai asisten apoteker di sebuah apotek swasta di bilangan Jakarta Barat. Saat itu saya baru lulus SMF (dahulu masih bernama SMF, kalau sekarang sudah menjadi SMK Farmasi). Ketika itu saya mendapat giliran tugas pagi, sedangkan senior saya tugas malam. Apoteker apotek pun sepagi itu sedang tugas mengajar di SMF binaannya. Kemudian datanglah seorang pasien manula membawa selembar resep yang ternyata ditulis dr. X yang terkenal tulisannya sulit dibaca. Keringat dingin langsung mengucur dari tubuh saya, tapi jelas saya tidak boleh menolak resep. Saya bisa kena omel pimpinan apotek kalau ketahuan dan kasihan juga pasien malang itu. Juru racik saya yang baik menyarankan agar menelpon dokternya langsung untuk konfirmasi isi resepnya. Saran itu tidak langsung saya iyakan karena teringat t…