Langsung ke konten utama

Puisi-puisiku Terserak (Memaknai Puisi)

Dari zaman SMA, aku sudah suka menulis puisi. Gara-gara pelajaran Bahasa Indonesia yang kala itu sedang membahas tentang puisi dan bikin aku langsung jatuh cinta sama materinya. Menurutku, puisi adalah sebuah dunia yang aku bisa menyembunyikan segala perasaanku di sana. Terserah yang membaca paham atau tidak, yang penting aku paham dan aku merasa lepas.


Nah, setelah beberapa kali pertemuan, tibalah saat akan ujian materi puisi, sang guru memberikan bocoran kalau ujiannya adalah tentang pemaknaan puisi, jadi nanti kita diberikan beberapa puisi dan para murid diminta untuk mengapresiasinya dalam bentuk analisis untuk menjawab pertanyaan, "sebenarnya puisi itu maksudnya apa sih?"

Aku seneng banget kalau ulangan bentuknya esai begitu karena aku bisa bebas menulis apa saja. Aku makin rajin ke perpustakaan dan meminjam buku-buku puisi yang jadi koleksi perpus. Jam istirahat, aku malah membenamkan diri dalam puisi-puisi, saking antusiasnya! Teman-teman sampai meledek kalau aku calon pujangga :D

Saat ujian pun tiba, ada dua karya puisi yang menjadi soal pertanyaannya. Aku baca baik-baik dan aku coba hayati kedua puisi itu dalam-dalam. Aku pun mengerjakan ulangan kali itu dengan sangat lancar dan malah selesai duluan.

Tidak seperti ulangan lain, aku penasaran banget dengan nilai yang akan diberikan oleh Pak Guru. Aku yakin bisa dapat nilai bagus. Yakin sekali.

Tapi saudara-saudara, nilaiku malah 3! Pemahaman dan apresiasiku disalahkan oleh pak guru. Aku kesal setengah mati karena tidak merasa jawabanku salah. Lagipula, itu kan pemaknaanku tentang puisi-puisi itu, lalu yang dianggap pak guru benar itu pemaknaan puisi oleh siapa? Pengarangnya sendiri? Atau pemaknaan pak guru? Tapi aku bukan anak yang asertif, aku pendam sendiri pertanyaan dan kekecewaan itu.

Setelah itu, untuk beberapa lama, aku malas baca puisi lagi, kesal setengah mati!

Pada akhirnya, aku akrabi lagi dunia puisi. Maklum anak remaja. Puisi-puisi awalku gelap dan hitam, khas anak broken home. Semasa kuliah, puisi-puisiku tentang cinta, picisan deh! Di akhir kuliah, puisi-puisiku relijius abis. Lalu selama 5 tahun berikutnya aku puasa puisi.

Kini aku kembali lagi dengan puisiku. Percintaan, kekecewaan, sosialis, dan kurang agamis.

Aku ingin mengumpulkan puisi-puisiku dari dulu, tapi kebiasaanku yang suka seenaknya dan berantakan membuat hal itu gak mungkin dilakukan. Puisi-puisiku terserak di mana-mana, mungkin ada di tukang loak. Ah, menyebalkan!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC–Dokter Pegiat ASI yang Pemberani

Pernahkah Anda mendengar cerita tentang dokter yang “berselingkuh” dengan industri farmasi dan industri kesehatan? Saya pernah mendengar hal semacam itu dan beberapa orang kenalan saya memang membenarkan kalau itu terjadi. Katanya memang ada perusahaan farmasi yang menawarkan “hadiah” kepada para dokter yang mau menuliskan obat produksi mereka dalam resep-resep mereka. Hadiahnya bisa bermacam-macam, dari dibiayai pendidikan lanjutnya sampai diberikan mobol mewah terbaru. Miris bagaimana kesehatan pasien menjadi barang dagangan semata di kalangan oknum dokter yang takubahnya seperti agen obat itu. Tapi saya yakin, tidak semua dokter punya prinsip demikian. Ada juga dokter yang masih memiliki integritas tinggi dan membaktikan hidupnya demi nilai-nilai kemanusiaan. Saya pernah menemui salah satu dari dokter yang seperti itu. Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan menjadi relawan jurnalistik Dompet Dhuafa dan diminta untuk mewawancarai beberapa dokter yang menjadi relawan medis di sana. N…

Tiga Pertanyaan

Pendidikan Interprofesional (IPE) Profesi Kesehatan di Indonesia

: Obat Manjur Bagi Prasangka Profesi
Bila berbicara tentang prasangka negatif terhadap profesi kesehatan lain, mau tidak mau saya jadi teringat dengan peristiwa sepuluh tahun lalu, saat saya masih bertugas sebagai asisten apoteker di sebuah apotek swasta di bilangan Jakarta Barat. Saat itu saya baru lulus SMF (dahulu masih bernama SMF, kalau sekarang sudah menjadi SMK Farmasi). Ketika itu saya mendapat giliran tugas pagi, sedangkan senior saya tugas malam. Apoteker apotek pun sepagi itu sedang tugas mengajar di SMF binaannya. Kemudian datanglah seorang pasien manula membawa selembar resep yang ternyata ditulis dr. X yang terkenal tulisannya sulit dibaca. Keringat dingin langsung mengucur dari tubuh saya, tapi jelas saya tidak boleh menolak resep. Saya bisa kena omel pimpinan apotek kalau ketahuan dan kasihan juga pasien malang itu. Juru racik saya yang baik menyarankan agar menelpon dokternya langsung untuk konfirmasi isi resepnya. Saran itu tidak langsung saya iyakan karena teringat t…