Langsung ke konten utama

Undangan Pernikahan Online? Kenapa Tidak!


Pertumbuhan pengguna internet di Indonesia pada tahun 2013 diperkirakan akan menggelembung sampai angka yang cukup mencengangkan, mencapai 82 juta pengguna. Padahal, pada tahun 2011 angkanya baru mencapai 55 juta pengguna. Pertumbuhan yang sangat fantastis. Artinya, angka melek internet orang Indonesia sudah meningkat pesat. Internet bukan lagi menjadi barang mewah karena dapat diakses melalui alat yang sehari-hari tidak lepas dari kegiatan kita yaitu, telepon genggam. Terbukti, sebanyak 55% orang Indonesia menggunakan telepon genggam sebagai alat elektronik kedua terbanyak yang digunakan setelah televisi dan akses internet melalui telepon genggam pun mengalami kenaikan jumlah pula. 

Demografi pengguna internet tidak lagi didominasi kaum muda usia 20-an saja. Faktanya, angka penggunaan internet oleh orang-orang dengan kisaran umur 35-39 tahun naik menjadi sebesar 52%. Artinya penggunaan internet sudah mulai merata melingkupi berbagai kalangan usia. Dampak positif yang nyata dari peningkatan penggunaan internet di Indonesia ini adalah segala informasi tentang apapun mudah untuk diakses oleh siapa pun, dimana pun, dan kapan pun! Termasuk halnya dengan undangan pernikahan.

Ada salah satu website yang mengkhususkan diri dalam pelayanan jasa pembuatan dan publisitas undangan pernikahan daring alias online. Namanya Datangya! yang beralamat di www.datangya.com. Situs ini selain sangat cerdas memanfaat peluang bisnis dari momen peningkatan penggunaan internet di Indonesia, kehadirannya dapat menjadi jawaban dari beberapa persoalan bila kita memilih menggunakan undangan konvensional.

Pertama, masalah budget. Bayangkan, bila kita ingin mengundang seribu orang saja, bila menggunakan undangan konvensional (berbahan baku kertas), nominal yang harus dikeluarkan bisa lebih dari satu juta rupiah. Itu bila ingin desain dan pilihan kertas yang berkualitas premium. Apalagi bila ingin mengundang sepuluh ribu undangan? Bila ingin lebih murah? Bisa saja, namun akhirnya malah terkesan murahan dan desainnya pas-pasan. Bandingkan dengan layanan Datangya! yang berbiaya terjangkau: 250.000 rupiah saja!

Kedua, masalah waktu. Pengiriman undangan konvensional harus menggunakan jasa pos/kiriman sehingga harus meluangkan waktu untuk mengirimkannya atau setidaknya meluangkan waktu mengantarnya sendiri ke alamat tujuan. Untuk kaum profesional yang memiliki waktu luang terbatas, hal ini jelas tidak menjadi pilihan yang menyenangkan. Bila undangan itu sampai lewat pos/jasa pengiriman ke alamat tujuan, belum tentu si penerima membacanya langsung. Apalagi bila yang menerima bukan orang yang kita maksudkan (misalnya pembantu rumah atau tukang kebunnya), ada risiko lupa disampaikan atau terselip di antara tumpukan surat penting lainnya.

Ketiga, isu lingkungan hidup. Ya, penggunaan kertas yang notabene terbuat dari kayu sudah menjadi momok bagi isu lingkungan kontemporer. Satu pohon pinus dengan diameter 30 cm dan tinggi sekitar 18 meter dapat menghasilkan kertas dengan berat 365 kg atau bila kertas undangan yang kita gunakan memiliki berat sekitar 150 gr/m2 dan ukurannya 40 x 15 cm, maka satu rimnya akan menghabiskan 500 x 40 x 15 = 300.000 cm2 = 30 m2 kertas. Ini setara dengan kertas berat sebesar 30 m2 x 150 gr/m2= 4500 gram. Artinya satu pohon pinus dapat membuat sekitar 81 rim undangan dengan ukuran standar 40 x 15 cm dan berat 150 gram.

Di daerah Subang saja, angka pernikahan tiap tahunnya adalah 1000 pasangan. Bila tiap pasangan mengundang sebanyak 500 orang undangan saja, ini artinya tiap tahunnya, hanya untuk keperluan undangan pernikahan, Subang bisa menghabiskan kertas undangan sebanyak 1000 rim atau sekitar 12 pohon pinus. Bagaimana dengan daerah lainnya? Tentu akan menghabiskan kertas undangan lebih banyak lagi, meskipun hitung-hitungan ini masih sangat kasar.

Kehadiran penyedia layanan undangan online, seperti Datangya! akan menjawab ketiga persoalan di atas. Ditambah lagi, situs ini memberikan fitur dengan sentuhan personal bagi klien mereka dan tentunya dengan desain yang apik. Bahkan, fiturnya jauh lebih lengkap dan interaktif dibandingkan undangan konvensional. Selain itu, si penerima undangan bisa membaca undangan yang dikirimkan oleh pasangan calon pengantin yang berbahagia itu di mana saja, kapan saja, dan dengan mudahnya. Tinggal klik dan beres.

Kembali kepada fakta demografis pengguna internet tersebut, calon klien tidak perlu khawatir kalau-kalau surat undangannya tidak dapat diakses oleh calon penerima. Mengingat luasnya cakupan pengakses internet saat ini. Apalagi Datangya! menyisipkan link undangan online ini melalui share ke social media ataupun via surat elektronik kepada orang-orang tertentu yang spesial buat pasangan tersebut.

Indonesia memiliki 43,6 juta jumlah pengguna Facebook dan 19,5 juta jumlah pengguna Twitter yang menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat penggunaan social media yang lumayan besar di dunia. Artinya fitur sharing undangan via social media merupakan solusi yang sangat tepat. Lalu, dengan adanya fitur social media yang terintegrasi dengan telepon genggam dan kemudahan akses internet melalui instrumen yang sama, kemungkinan tidak terbacanya undangan pernikahan online yang kita kirimkan sangatlah kecil. Apalagi, ada kebiasaan baru di kalangan masyarakat pengguna telepon genggam urban untuk mengecek layar telepon genggamnya tiap setengah jam sekali.

Jadi, memilih undangan pernikahan online? Kenapa tidak!

Referensi:
www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,pdf-ids,2-id,4... 

Komentar

  1. Kalau gitu nunggu Undangan dari Ryeska aja deh :-)

    BalasHapus
  2. Waaaa, ada pak Dian, jadi malu saya :D
    Kalo buat bapak saya antar khusus ke Tomang pak :D

    BalasHapus
  3. isu lingkungan hidup itu yang jadi sorotan. lets go green!

    semoga sukses!
    jangan lupa mampir ke blog aku ya
    http://argalitha.blogspot.com/2013/02/berhemat-dengan-undangan-pernikahan.html
    makasih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih arga litha, insya Allah mampir :)

      Hapus
  4. Baca punya saya juga, yah? ^-^

    http://mrikartayusani.blogspot.com/2013/02/cara-mudah-membuat-kartu-undangan.html

    BalasHapus
  5. hiii.....asyik ya kayanya pake undangan pernikahan online...goodluck yaaa
    silahkan mampir http://farichatuljannah.blogspot.com/2013/02/datangyacom-ahlinya-undangan-pernikahan.html

    BalasHapus
  6. siap Rikar dan Icha :) kalian juga sukses ya

    BalasHapus
  7. ya tidak ribet dan tentunya perlu kalimat yang formal dan tepat sasaran informasinya jika mau membuat undangan melalui online ini. Tetunya juga menghemat pemakaian kertas :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC–Dokter Pegiat ASI yang Pemberani

Pernahkah Anda mendengar cerita tentang dokter yang “berselingkuh” dengan industri farmasi dan industri kesehatan? Saya pernah mendengar hal semacam itu dan beberapa orang kenalan saya memang membenarkan kalau itu terjadi. Katanya memang ada perusahaan farmasi yang menawarkan “hadiah” kepada para dokter yang mau menuliskan obat produksi mereka dalam resep-resep mereka. Hadiahnya bisa bermacam-macam, dari dibiayai pendidikan lanjutnya sampai diberikan mobol mewah terbaru. Miris bagaimana kesehatan pasien menjadi barang dagangan semata di kalangan oknum dokter yang takubahnya seperti agen obat itu. Tapi saya yakin, tidak semua dokter punya prinsip demikian. Ada juga dokter yang masih memiliki integritas tinggi dan membaktikan hidupnya demi nilai-nilai kemanusiaan. Saya pernah menemui salah satu dari dokter yang seperti itu. Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan menjadi relawan jurnalistik Dompet Dhuafa dan diminta untuk mewawancarai beberapa dokter yang menjadi relawan medis di sana. N…

Tiga Pertanyaan

Pendidikan Interprofesional (IPE) Profesi Kesehatan di Indonesia

: Obat Manjur Bagi Prasangka Profesi
Bila berbicara tentang prasangka negatif terhadap profesi kesehatan lain, mau tidak mau saya jadi teringat dengan peristiwa sepuluh tahun lalu, saat saya masih bertugas sebagai asisten apoteker di sebuah apotek swasta di bilangan Jakarta Barat. Saat itu saya baru lulus SMF (dahulu masih bernama SMF, kalau sekarang sudah menjadi SMK Farmasi). Ketika itu saya mendapat giliran tugas pagi, sedangkan senior saya tugas malam. Apoteker apotek pun sepagi itu sedang tugas mengajar di SMF binaannya. Kemudian datanglah seorang pasien manula membawa selembar resep yang ternyata ditulis dr. X yang terkenal tulisannya sulit dibaca. Keringat dingin langsung mengucur dari tubuh saya, tapi jelas saya tidak boleh menolak resep. Saya bisa kena omel pimpinan apotek kalau ketahuan dan kasihan juga pasien malang itu. Juru racik saya yang baik menyarankan agar menelpon dokternya langsung untuk konfirmasi isi resepnya. Saran itu tidak langsung saya iyakan karena teringat t…