Langsung ke konten utama

Kelas Inspirasi-3 (The Day!)

Akhirnya hari yang dinantikan sekaligus ditakutkan tiba. Rabu tanggal 20 Februari 2013. Hari aku menjadi inspirator di SDN 07 Rawasari untuk mengenalkan profesi apoteker dan editor ke anak-anak. Dari malam aku menyiapkan bahan-bahan presentasi yang sederhana, mengingat ini anak-anak SD yang dominan aspek visualnya. Sebenarnya aku kena omelan juga sama si doi karena nyiapin bahan-bahannya dadakan, H-1. Tapi bagaimana lagi? Kemarin-kemarin idenya mendek :D < alasan

Pas paginya, aku mulai deh psikosomatiknya! Mulas-mulas dan nafas mulai tersengal-sengal. Aku memang pernah mengajar anak SD, tapi itu cuma 5 orang anak saja, maklum mengajar di bimbel. kalau sampai puluhan anak SD sih belum pernah, pernahnya mengajar puluhan anak SMA saja.

Jadwalku lumayan padat. Lima kelas Brow! Aku pikir anak kelas 1 SD-nya bakal pulang jam 10-an, ternyata aku salah! Aku kebagian juga jatah mengajar kelas satu...huhuhuhuhu.

Dimulai dari mengajar anak kelas 3, aku datang paling awal dari teman-teman tim 23 yang lain! Jam 6 kurang sudah sampai loh! Amazing deh! Awalnya aku kira akan ada sesi senam bersama, tapi karena ada Try-out kelas 6, senam ditiadakan. Padahal, aku udah brendong petong bawa-bawa kaos dan celana olahraga loh!

Jam 7 teng, aku mulai mengajar. Wah...deg-degan habis karena anak-anak kan tingkahnya unpredictable! Tapi sejauh aku mengajar di menit-menit pertama, mereka antusias dan kooperatif kok. Aku awali dengan pertanyaan tebak-tebakan, "Apa profesi saya?". Saat itu dengan pedenya aku pakai jas putih dan menggantungkan stetoskop di leherku. Seperti dugaanku, mereka kira aku dokter, hehehehehe, mereka salah semua deh. Nah, sesi serunya waktu aku nunjukkin tulisan dokter yang acak kadut dalam resep itu seperti apa, dan aku bilang dengan lumayan bangga ke mereka, "Tulisan dokter seperti itu bisa dibaca loh sama apoteker!" Mereka antusias sampai maju ke depan untuk membaca resep yang saat itu aku bawa cuma dua saja. Lupa fotokopi, ini lagi-lagi karena persiapan mendadak :D

Yang bikin makin degdegan, ternyata di dalam kelas itu bukan cuma ibu gurunya yang ikutan mendengarkan, tapi anggota kelompokku yang lain, yaitu Pak Kemal Kartomo yang CEO Bank Mandiri ituh, jadi makin grogi gimana gitu :D

Nah, sebelum materi disudahi, aku ajak anak-anak mendengaran detak jantung memakai stetoskop, suasana makin riuh, tapi aku bilang ke mereka, "yang duduknya rapi boleh pakai duluan!" Alhasil, mereka langsung duduk dengan manisnya, ehehehehehe.

Aku lemparkan lelucon aja dengan bilang, "kalau kalian mau dengar suara perut teman yang lagi kelaparan bisa kok? Bunyinya pasti burubukburubukkk," sambil aku praktikkan suaranya. Mereka pun tertawa.

Untuk kelas pertama, aku belum bisa atur waktu presentasinya, jadi mba elok yang sudah siap dengan kostum Power Ranger-nya terpaksa menunggu dengan sabar di luar kelas. Akhirnya aku pun pamit dan menuju lokasi kelas berikutnya, yaitu kelas 5.

Di kelas 5 pun mereka antusias, apalagi saat aku bagi-bagi hadiah buku buat yang berani maju ke depan menjabarkan presentasi yang sebelumnya aku berikan. Aku kasih buku komik dari "Kecil-Kecil Punya Karya". Aku sampaikan ke mereka bahwa yang menulis komik itu, umurnya baru 11 tahun saat membuat komik itu. Dan mata mereka pun langsung membelalak karena kagum, mudah-mudahan apa yang aku sampaikan bisa membuat mereka termotivasi berkarya yang lebih lagi, amin! :)


Di kelas 4, energiku masih menyala. Di kelas ini, stetoskop menjadi pusat perhatian mereka. Anak-anak kelas ini sangat antusias dan kelas 4 ini kelas yang paling kooperatif menurutku.

Petualangan berikutnya adalah ke kelas 2. Anak-anak ini agak susah dikendalikan. Aku makin sok-sok-an atraktif dengan semangat 45 meminta mereka duduk manis tiap kali aku teriak, "anak-anak!" Nah, mereka aku pancing dengan buku juga. Ternyata mereka suka membaca juga ya! Senang melihat mereka antusias seperti itu. Aku juga bagi-bagi coklat chacha buat mereka. Muka mereka pun makin sumringah.


Nah, kelas penutup. Jreng-jreng-jreng, kelas 1! OMG, saat itu sudah jam 11 siang dan mereka harusnya sudah pulang. Aku udah kepalang yakin duluan kalau akan susah menaklukkan mereka, bahkan choki-choki pun tidak bisa. Stetoskop tidak bisa aku pakai di kelas ini karena ujung stetoskop itu sudah mulai "somplak" karena dipakai anak-anak sebelumnya. Wah, akhirnya aku ajak bernyanyi saja sampai suaraku habis banget. Gimana gak? Mereka nyanyi sampai teriak-teriak, aku juga kebawa teriak-teriak nyanyi-nya! Wkwkwkwkwk.

Tapi ada beberapa insiden di kelas satu ini, saat aku mau mulai mengajar, tiba-tiba anak-anak malah keluar kelas dan berlari ke lapangan. Aku kejar mereka dan guru-guru menyaksikan kami berlarian jadi bingung dan bertanya, "Ibu Ryeska minta mereka keluar?"

Dengan polosnya aku jawab sambil berwajah bingung karena gak tahu sama sekali kenapa mereka malah lari-lari keluar, "Gak bu...aku gak minta mereka keluar..."

Alhasil, anak-anak lucu itu kena omel sama guru kelasnya, ehehehehe, dan tahu kenapa mereka keluar? Karena ada yang bagi-bagi ikat kepala berbulu ayam! Hiks, aku kalah pamor sama bulu ayam di mata mereka :'(

Tapi lucu sih anak-anak itu. Ada insiden lain, seorang anak bernama Siti kena pukul sama teman cowoknya yang bernama Arya, insiden itu terjadi saat aku dikerubutin anak-anak yang mau menyanyi. Haduhhh!!! God! Gak kebayang 5 hari dalam seminggu menghadapi anak-anak yang lincah begini! :D

Akhirnya kelas inspirasi pun berakhir dan kami berfoto bersama. Menyenangkan dan mengharukan juga pengalaman saat itu. Membuat aku lebih mensyukuri apa yang sudah dan sedang berlangsung dalam hidupku, terutama yang berkaitan dengan pendidikan. Kalau bisa, tahun depan aku mau ikutan bergabung lagi jadi pengajarnya, bisa gak ya?

foto dari mas Bian


Oiya, ada rencana aksi lanjutan kelas inspirasi per wilayah domisili, mudah-mudahan aku bisa ikut berkontribusi dengan teman-teman lain.

Kelas inspirasi? Membangun mimpi anak Indonesia!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC–Dokter Pegiat ASI yang Pemberani

Pernahkah Anda mendengar cerita tentang dokter yang “berselingkuh” dengan industri farmasi dan industri kesehatan? Saya pernah mendengar hal semacam itu dan beberapa orang kenalan saya memang membenarkan kalau itu terjadi. Katanya memang ada perusahaan farmasi yang menawarkan “hadiah” kepada para dokter yang mau menuliskan obat produksi mereka dalam resep-resep mereka. Hadiahnya bisa bermacam-macam, dari dibiayai pendidikan lanjutnya sampai diberikan mobol mewah terbaru. Miris bagaimana kesehatan pasien menjadi barang dagangan semata di kalangan oknum dokter yang takubahnya seperti agen obat itu. Tapi saya yakin, tidak semua dokter punya prinsip demikian. Ada juga dokter yang masih memiliki integritas tinggi dan membaktikan hidupnya demi nilai-nilai kemanusiaan. Saya pernah menemui salah satu dari dokter yang seperti itu. Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan menjadi relawan jurnalistik Dompet Dhuafa dan diminta untuk mewawancarai beberapa dokter yang menjadi relawan medis di sana. N…

Tiga Pertanyaan

Pendidikan Interprofesional (IPE) Profesi Kesehatan di Indonesia

: Obat Manjur Bagi Prasangka Profesi
Bila berbicara tentang prasangka negatif terhadap profesi kesehatan lain, mau tidak mau saya jadi teringat dengan peristiwa sepuluh tahun lalu, saat saya masih bertugas sebagai asisten apoteker di sebuah apotek swasta di bilangan Jakarta Barat. Saat itu saya baru lulus SMF (dahulu masih bernama SMF, kalau sekarang sudah menjadi SMK Farmasi). Ketika itu saya mendapat giliran tugas pagi, sedangkan senior saya tugas malam. Apoteker apotek pun sepagi itu sedang tugas mengajar di SMF binaannya. Kemudian datanglah seorang pasien manula membawa selembar resep yang ternyata ditulis dr. X yang terkenal tulisannya sulit dibaca. Keringat dingin langsung mengucur dari tubuh saya, tapi jelas saya tidak boleh menolak resep. Saya bisa kena omel pimpinan apotek kalau ketahuan dan kasihan juga pasien malang itu. Juru racik saya yang baik menyarankan agar menelpon dokternya langsung untuk konfirmasi isi resepnya. Saran itu tidak langsung saya iyakan karena teringat t…