Langsung ke konten utama

Mengejar Mimpi Jadi Penulis

Tadi siang aku mengikuti kegiatan penghargaan penulis fiksi nonfiksi TULISNUSANTARA yang diadakan oleh kemenparekraf. Aku membawa segumpal harapan, seperti peserta lainnya, untuk menang. Aku punya banyak alasan kenapa aku ingin menang tapi di tengah acara, seorang teman baru, namanya Ratih, mengatakan padaku kalau sepertinya pemenang "sebenarnya" sudah dikontak oleh panitia untuk datang ke acara itu. Jadi, aku datang sudah pasti tidak akan menang, wong ndak ada yang telpon aku kok!

Sempat sih merasa bodoh, harusnya aku gak datang dengan membawa harapan kemenangan, harusnya aku datang untuk alasan lain, ya...misalnya dapet makanan gratis :D

Tapi aku yang "polos" itu datang dengan penuh semangat. Langkah kaki lebih bersemangat dari biasanya, Menggas motor lebih bertenaga dari biasanya (alias agak ngebut, ehehehehe). Pokoknya, harapan itu membuat tenagaku berlebih seperti SUPERSEIYA dari kartun Dragon Ball.

Tapi hasilnya apa? Ya, benar..aku belum jadi salah satu pemenangnya. Berarti Ratih benar, pemenang sebenarnya sudah dikontak panitia duluan. Hiks2...

Perasaan negatif yang sebentar muncul tadi lalu terhapus oleh sebuah sms, "Akan ada saatnya nanti kamu yang jadi pemenang..."

Lalu aku mencoba melihat dari sudut pandang lain. Kalau dipikir-pikir, karyaku memang jauh banget dari sempurna, gak ada kesatuan cerita yang baik, pantas belum layak menang!

Setelah berpikir seperti itu, aku mulai bisa menikmati acaranya lagi dan malah minta tandatangan mbak Helvy Tiana Rosa loh sama mbak Sundari #wink2

Sayangnya mas Eka Kurniawan gak dateng, padahal pengen banget bisa ketemu beliau. Aku suka karyanya yang "Lelaki Harimau", kalau yang "Cantik itu Luka" aku kurang suka. Btw Plotpoint ngadain acara workshop penulisan online dengan dia sebagai tutornya loh, tapi sayang agak mahal... :D

Nah, kembali ke masalah cerpenku tadi. Kalau dipikir-pikir, aku memang belum layak menang karena cerpen buatanku masih sedikit banget, masih kurang dari 10 cerpen. Terang aja kemampuan menulisnya, ibarat kata nih, masih seperti anak TK baru belajar nulis.

Tapi aku harus tetap semangat! Ini mimpiku...aku harus mengejarnya sampai dapat! Jangan sampai terbaluri penyesalan lagi karena tidak mau bergerak lebih cepat, lebih kuat, lebih terarah seperti sebelumnya!

Penulis mana gitu pernah bilang kalau penulis itu seksi. Kalau aku? Aku menganggap kalau para pengejar mimpi itulah makhluk ciptaan Tuhan yang paling seksi :D

SEMANGATTTT!!!!





Komentar

  1. mana cerpennya mbak? mau baca.. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. nanti aku print dan fotokopiin deh untuk memperbanyak, wkwkwkwk

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC–Dokter Pegiat ASI yang Pemberani

Pernahkah Anda mendengar cerita tentang dokter yang “berselingkuh” dengan industri farmasi dan industri kesehatan? Saya pernah mendengar hal semacam itu dan beberapa orang kenalan saya memang membenarkan kalau itu terjadi. Katanya memang ada perusahaan farmasi yang menawarkan “hadiah” kepada para dokter yang mau menuliskan obat produksi mereka dalam resep-resep mereka. Hadiahnya bisa bermacam-macam, dari dibiayai pendidikan lanjutnya sampai diberikan mobol mewah terbaru. Miris bagaimana kesehatan pasien menjadi barang dagangan semata di kalangan oknum dokter yang takubahnya seperti agen obat itu. Tapi saya yakin, tidak semua dokter punya prinsip demikian. Ada juga dokter yang masih memiliki integritas tinggi dan membaktikan hidupnya demi nilai-nilai kemanusiaan. Saya pernah menemui salah satu dari dokter yang seperti itu. Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan menjadi relawan jurnalistik Dompet Dhuafa dan diminta untuk mewawancarai beberapa dokter yang menjadi relawan medis di sana. N…

Tiga Pertanyaan

Pendidikan Interprofesional (IPE) Profesi Kesehatan di Indonesia

: Obat Manjur Bagi Prasangka Profesi
Bila berbicara tentang prasangka negatif terhadap profesi kesehatan lain, mau tidak mau saya jadi teringat dengan peristiwa sepuluh tahun lalu, saat saya masih bertugas sebagai asisten apoteker di sebuah apotek swasta di bilangan Jakarta Barat. Saat itu saya baru lulus SMF (dahulu masih bernama SMF, kalau sekarang sudah menjadi SMK Farmasi). Ketika itu saya mendapat giliran tugas pagi, sedangkan senior saya tugas malam. Apoteker apotek pun sepagi itu sedang tugas mengajar di SMF binaannya. Kemudian datanglah seorang pasien manula membawa selembar resep yang ternyata ditulis dr. X yang terkenal tulisannya sulit dibaca. Keringat dingin langsung mengucur dari tubuh saya, tapi jelas saya tidak boleh menolak resep. Saya bisa kena omel pimpinan apotek kalau ketahuan dan kasihan juga pasien malang itu. Juru racik saya yang baik menyarankan agar menelpon dokternya langsung untuk konfirmasi isi resepnya. Saran itu tidak langsung saya iyakan karena teringat t…