Langsung ke konten utama

Sepenggal Kisah Air Gunungkidul

Bila mendengar kata Gunungkidul, hal yang pertama ada di dalam benak saya adalah: kekeringan dan krisis air. Tidak heran, karena Gunungkidul selalu diberitakan di media selalu mengalami kekurangan air tiap tahunnya. Karena itu, saya selalu membayangkan kalau Gunungkidul adalah sebuah daerah yang gersang dan tandus. Setidaknya itu yang saya kira sampai akhirnya kunjungan kemarin ke Yogyakarta mengubah total bayangan saya tentang Gunungkidul itu.

Dalam rangka menghabiskan waktu libur menjelang tahun baru, saya memilih Yogyakarta sebagai lokasi wisata pilihan. Tapi saya bosan bila menghabiskan waktu wisata di daerah perkotaan, Berbekal rasa penasaran, beberapa hari lalu saya ajak teman saya mengunjungi Gunungkidul. Kebetulan dia adalah lulusan Universitas Ahmad Dahlan yang pernah melaksanakan KKN di daerah itu. Kami berboncengan mengendarai sepeda motor ke sana, Saya sebenarnya sudah bersiap untuk melihat pemandangan gunung kapur yang gersang dengan debu berterbangan mengganggu pernafasan. Tapi apa yang saya lihat dengan mata kepala ini jauh dari perkiraan saya, Gunungkidul hijau dan terlihat subur. Terus terang saya bingung, kenapa daerah sehijau ini bisa kekurangan air?


Pemandangan Gunungkidul dari atas

Kami sempat terhenti beberapa kali untuk mengabadikan gambar keindahan Gunungkidul. Aneh bila tempat seindah dan hijau royo-royo seperti ini mengalami krisis air! Rekan perjalanan saya yang bernama Riza hanya tersenyum kemudian menjawab singkat ketika saya menanyakan kenapa daerah sehijau ini ternyata kekurangan air. Dia mengatakan kalau sebabnya adalah air yang tidak bisa lama tergenang di permukaan bumi Gunungkidul oleh karena tanahnya yang gamping. Sungguh saya tidak bisa membayangkan bagaimana sulitnya keadaan masyarakat Gunungkidul untuk mencari air ketika musibah kekeringan terjadi.

Setelah puas mengambil beberapa gambar, kami meneruskan perjalanan menuju Kecamatan Panggang, lokasi tempat KKN Riza beberapa tahun lalu. Di sepanjang jalan kami melihat kertas penunjuk kelompok KKN, ternyata saat itu di beberapa desa di Gunungkidul sedang diadakan KKN para mahasiswa Universitas Atmajaya, Yogyakarta.

Riza sudah memperingatkan kalau menuju desa tujuan, yaitu Desa Petung, kami akan melalui jalanan yang lumayan rusak. ternyata dia benar, jalanan yang dia maksud masih rusak meskipun kerusakannya tidak sepanjang beberapa tahun lalu. Di sepanjang jalan Kecamatan Panggang pula, kami melihat adanya pipa-pipa yang ternyata adalah pipa air dari PDAM.

Pipa-pipa PDAM yang terbengkalai.

Keberadaan pipa-pipa itu membuat kami berpikir kalau seharusnya air untuk keperluan sehari-hari tidaklah menjadi masalah lagi, tapi ternyata kemudian kami baru tahu kalau kesimpulan itu salah setelah kami sampai di Desa Petung dan mengobrol dengan seorang warga Desa Petung yang bernama Suryati. Mba Suryati adalah kenalan Riza ketika KKN dulu.

Saat kami menemuinya, dia sedang sibuk memasak makanan untuk mahasiswa peserta KKN. Namun, warga Desa Gunungkidul memang terkenal dengan keramahannya, mbak Suryati malah menawarkan kami untuk mampir ke dalam rumahnya untuk berbincang sejenak.

Rumah mbak Suryati sederhana sebagaimana rumah warga lainnya. Hampir seluruh rumah di Desa itu memiliki tangki penampungan air hujan, bisa satu buah atau lebih tergantung dari kemampuan finansial si empunya rumah. Mbak Suryati menyuguhkan kami secangkir teh manis hangat khas Gunungkidul karena dibuat dari air hujan yang mereka tampung. Rasanya lumayan segar untuk membasahi tenggorokan kami yang sudah sangat kehausan karena kelupaan membawa air.

 Tangki Penampungan Air Hujan.

Sembari Riza dan Mbak Suryati bernostalgia tentang KKN UAD beberapa tahun lalu, saya menyelipkan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan air kepada Mbak Suryati. Darinya akhirnya kami mengetahui beberapa fakta, seperti air PAM belum masuk desa mereka. Meskipun pipa-pipa sudah melintasi desa, tetapi lebih semacam hiasan saja. Mereka masih harus berjuang untuk mendapatkan air. Di musim hujan seperti saat ini, kebutuhan air dapat tercukupi karena bisa langsung ditampung oleh tangki-tangki yang harga pembuatannya bisa mencapai 3 juta rupiah, bahkan lebih. Mahal sekali memang, mengingat mata pencaharian warga kebanyakan hanyalah lewat petani dan berladang. Beruntung bila keluarga itu memiliki anak yang bekerja di kota, uang kirimannya bisa digunakan untuk menambah dana pembuatan tangki.

Di musim kemarau yang bisa berlangsung 5-6 bulan nantilah warga baru akan merasakan sulitnya memperoleh air. Bila memiliki tangki air lebih dari satu, warga bisa cukup merasa aman karena persediaan air cukup untuk menanggulangi krisis saat musim kemarau tiba, meskipun hanya beberapa saat saja. Bila persediaan air hujan habis, mereka terpaksa membeli air yang harga per tangkinya bisa mencapai 140-150 ribu. Persediaan air itu harus mereka hemat agar bisa bertahan selama 20 hari, bila pemakaian agak boros, persediaan air hanya bisa untuk 2 minggu saja.

Mbak Suryati mengeluhkan mengenai aliran air PAM yang belum menyentuh desa mereka. Padahal, kehadiran air PAM tentu sedikit-banyak akan meringankan beban keuangan karena pembelian air. Dengan membeli air pula, akhirnya Mbak Suryati sering merasa "tidak tegel" bila air yang mereka beli cukup mahal itu dipakai untuk keperluan sepele, seperti untuk menggelontorkan kotoran hajat besar di toilet leher angsa milik mereka. Dahulu memang mereka menggunakan WC Cemplung yang tidak memerlukan air sama sekali, namun karena alasan kesehatan dan sanitasi yang buruk, mereka mulai beralih ke pemakaian toilet leher angsa. Meskipun akhirnya buat mereka itu menjadi dilema tersendiri.

Bilik WC Cemplung.


Terus terang buat saya, pengalaman dan perbincangan dengan Mbak Suryati ini membuka cakrawala saya sendiri mengenai air. Zat yang seringkali saya remehkan keberadaannya karena masih sering menyia-nyiakan penggunaannya. Air yang dulunya menurut saya sepele karena di Tangerang saya masih bisa mendapatkannya dengan mudah lewat air PAM, ternyata menjadi benda yang tergolong mahal di sini. Apakah pantas saya memboroskan penggunaannya, sedangkan saudara saya di sini mengalami kesulitan memperoleh air?

Pertanyaan itu terus menggelayuti pikiran saya sejak kami berpamitan dengan Mbak Suryati karena hendak kembali ke kota Yogyakarta. Bahkan keadilan dalam hal distribusi air saja tidak mereka dapatkan dari pemerintah. Saya, sebagai sesama rakyat kecil seperti warga Gunungkidul lainnya, seharusnya bisa berbuat sesuatu, meskipun hanya lewat tindakan kecil, seperti menghemat penggunaan air dalam kegiatan keseharian saya. Sebagai perwujudan rasa sepenanggunga. Kira-kira seperti itulah! Bagaimana dengan kamu?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC–Dokter Pegiat ASI yang Pemberani

Pernahkah Anda mendengar cerita tentang dokter yang “berselingkuh” dengan industri farmasi dan industri kesehatan? Saya pernah mendengar hal semacam itu dan beberapa orang kenalan saya memang membenarkan kalau itu terjadi. Katanya memang ada perusahaan farmasi yang menawarkan “hadiah” kepada para dokter yang mau menuliskan obat produksi mereka dalam resep-resep mereka. Hadiahnya bisa bermacam-macam, dari dibiayai pendidikan lanjutnya sampai diberikan mobol mewah terbaru. Miris bagaimana kesehatan pasien menjadi barang dagangan semata di kalangan oknum dokter yang takubahnya seperti agen obat itu. Tapi saya yakin, tidak semua dokter punya prinsip demikian. Ada juga dokter yang masih memiliki integritas tinggi dan membaktikan hidupnya demi nilai-nilai kemanusiaan. Saya pernah menemui salah satu dari dokter yang seperti itu. Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan menjadi relawan jurnalistik Dompet Dhuafa dan diminta untuk mewawancarai beberapa dokter yang menjadi relawan medis di sana. N…

Tiga Pertanyaan

Pendidikan Interprofesional (IPE) Profesi Kesehatan di Indonesia

: Obat Manjur Bagi Prasangka Profesi
Bila berbicara tentang prasangka negatif terhadap profesi kesehatan lain, mau tidak mau saya jadi teringat dengan peristiwa sepuluh tahun lalu, saat saya masih bertugas sebagai asisten apoteker di sebuah apotek swasta di bilangan Jakarta Barat. Saat itu saya baru lulus SMF (dahulu masih bernama SMF, kalau sekarang sudah menjadi SMK Farmasi). Ketika itu saya mendapat giliran tugas pagi, sedangkan senior saya tugas malam. Apoteker apotek pun sepagi itu sedang tugas mengajar di SMF binaannya. Kemudian datanglah seorang pasien manula membawa selembar resep yang ternyata ditulis dr. X yang terkenal tulisannya sulit dibaca. Keringat dingin langsung mengucur dari tubuh saya, tapi jelas saya tidak boleh menolak resep. Saya bisa kena omel pimpinan apotek kalau ketahuan dan kasihan juga pasien malang itu. Juru racik saya yang baik menyarankan agar menelpon dokternya langsung untuk konfirmasi isi resepnya. Saran itu tidak langsung saya iyakan karena teringat t…