Langsung ke konten utama

Hikayat Air di Tanah Air

“Indonesia penuh dengan air. Tapi akhirnya diharuskan membeli air dari pemikul-pemikul dengan harga tinggi. Ini pun biasa! Seperti harga barang naik, mulanya menggerutu, protes kiri dan kanan, akhirnya protes itu ditelan keprotesan massa. Lantas jadi biasa.”
Seorang sastrawan pendukung Manifesto Kebudayaan, Ras Siregar, sudah menyuarakan mengenai fenomena kelangkaan air bersih di Indonesia dalam karya cerpennya yang berjudul Air, khususnya kelangkaan air yang terjadi di Jakarta kala itu, sekitar tahun 1964-an. Bung Rasa Siregar benar, Indonesia penuh dengan air. Tercatat bahwa kekayaan sumber daya air yang dapat diperbaharui di Indonesia menduduki peringkat keempat di dunia. Sekitar 6 persen persediaan sumber air dunia dimiliki oleh Indonesia.

Kini sudah 48 tahun setelah karya tersebut dibuat, banyak daerah di Indonesia masih mengalami kondisi yang sama: kekurangan air bersih. Mereka yang diperkotaan terpaksa membeli berdirijen-dirijen air bersih yang harganya tidaklah bisa dikatakan murah, sedangkan mereka yang di pedesaan terpaksa berjalan kaki puluhan kilo meter memanggul ember atau penampung lain demi memperoleh air bersih.

Sebenarnya apa penyebab hal itu terjadi? Terlepas dari faktor perubahan iklim yang ekstrim, faktor-faktor seperti pendistribusian yang kurang merata, pengelolaan air yang kurang terencana, kerusakan lingkungan (termasuk pencemaran air), serta perilaku konsumsi air yang kurang bijak oleh warga masyarakat membuat krisis air kerap terjadi di beberapa wilayah di Indonesia.

Tidak hanya Jakarta, beberapa daerah di Pulau Jawa―di antaranya Gunung Kidul, Blora, Rembang, dan Purwakarta―, Nusa Tenggara, dan Bali, sering mengalami kekurangan air bersih. Menurut Bappenas, di Pulau Jawa sendiri pada tahun 2005, sekitar 77 persen wilayahnya, selain wilayah jabodetabek, mengalami defisit air satu sampai delapan bulan tiap tahunnya (saat musim kemarau). Bahkan, diperkirakan pada tahun 2025 mendatang, terjadi peningkatan defisit air menjadi 78,4 persen wilayah dengan defisit air selama satu hingga dua belas bulan! Ini artinya untuk sebagian besar wilayah di Pulau Jawa sepanjang tahunnya akan mengalami kekurangan air!

Ini semua tidak bisa dibiarkan! Indonesia, negara yang luas wilayahnya didominasi air mengapa sampai bisa terjadi sebagian besar daerahnya mengalami kekurangan air? Kita sebagai penduduk Negara Indonesia setidaknya harus berbuat sesuatu agar hal yang diramalkan Bappenas di atas tidak terjadi pada tahun 2025.

Mengubah Paradigma Tentang Air
Tidak benar kalau bumi ini berlimpah dengan sumber air yang tiap saat dapat kita pakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dari 100 persen sumber air yang ada di Bumi, sebagian besarnya berupa air asin yang terdapat di laut, yaitu sebesar 97 persen dan tentu saja itu tidak bisa kita manfaatkan untuk keperluan sehari-hari. Kalaupun bisa, harus menggunakan teknologi desalinasi air laut yang biayanya sangat mahal dan tidak terjangkau oleh rakyat biasa.

Sisanya yang sebesar 3 persen adalah air tawar yang dapat kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, perlu digarisbawahi bahwa dari jumlah 3 persen tersebut, dua per tiganya terperangkap berupa es di kutub dan hanya satu pertiganya saja yang dapat dimanfaatkan 7 milyar jiwa manusia di dunia (2011).

Lalu seberapa besar kebutuhan air bersih di Indonesia sendiri? Kita ambil contoh Pulau Jawa. Menurut perhitungan Kementerian Pekerjaan Umum, di tahun 2003 kebutuhan air bersih untuk Pulau Jawa sekitar 38 miliar meter kubik per tahun. Namun, ketersediaan air bersih hanya sekitar 25 miliar meter kubik untuk wilayah itu. Secara langsung kita dapat melihat adanya defisit antara jumlah air bersih yang dibutuhkan dengan yang tersedia sebesar 13 miliar meter kubik dan angka defisit tersebut menunjukkan tren yang terus meningkat tiap tahunnya. Sementara jumlah dan kapasitas sumber-sumber air bersih cenderung menurun. Itulah faktanya! Data tersebut setidaknya dapat menjadi gambaran terhadap yang terjadi di beberapa wilayah lain yang menjadi langganan kekurangan air bersih juga.

Wilayah lain, seperti Pulau Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, dan Papua memang tidak mengalami defisit air, tapi dengan adanya penggundulan hutan yang semakin sering terjadi dan perubahan iklim yang ekstrim, bukan tidak mungkin daerah-daerah tersebut akan mengalami nasib yang sama, kekurangan sumber air bersih. Jadi salah besar bila kita masih menganggap kalau kondisi persediaan air kita masih sama, katakanlah, seperti seratus tahun lalu.

Dalam kondisi musim penghujan, Indonesia memang selalu mengalami surplus air, namun sayangnya kelebihan air yang melimpah itu tidak ditampung dan langsung terbuang percuma karena langsung mengalir ke laut. Kita tahu bahwa membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk air yang terbuang ke laut itu kembali lagi menjalani siklus air (menguap menjadi awan, lalu kemudian menjadi hujan lagi di daratan). Data dari Bappenas menyebutkan bahwa dari 100% sumber daya air di Jawa Tengah, sebanyak 65 miliar meter kubik (100%), yang terbuang ke laut sebanyak 37 miliar meter kubik (57%). Tidak cukup sampai di situ, ternyata jumlah air hujan tersebut hanya dimanfaatkan sekitar 25 miliar meter kubiknya (38%) saja.

Air bersih di Indonesia saat ini masih dianggap sebagai sebuah kemewahan oleh beberapa daerah, khususnya daerah tertentu di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Salah satu penyebabnya adalah karena belum didistribusikan air secara merata, terbukti dari cakupan pelayanan air bersih sebagai sumber air minum layak hanya 47,71 persen dan sekitar 60 juta penduduk Indonesia tidak memiliki akses terhadap air bersih (www.republika.co.id). Itu pun dinikmati sebagian besar oleh penduduk perkotaan.

Padahal, sebagaimana yang kita sudah ketahui, kekurangan air bersih memiliki pengaruh langsung terhadap sanitasi dan kesehatan. Menurut laporan National Geographic tentang air pada tahun 2010, jumlah kematian per tahun akibat kekurangan akses terhadap air bersih mencapai 3,3 juta jiwa.

Kekurangan akses itu membuat orang-orang mengurangi penggunaan air untuk kebutuhan yang dianggap sepele, namun sangat penting, misalnya untuk mencuci tangan dengan sabun. Padahal mencuci tangan dengan sabun mengurangi kejadian diare sampai 45% dan kasus diare di Indonesia mencapai 120 juta kasus per tahunnya!

Itu baru kita tinjau dari segi kuantitas air, belum kualitasnya. Faktor pencemaran air menjadi penyebab utamanya. Sampah domestik, limbah pabrik, dan perilaku sanitasi yang buruk (buang air besar sembarangan) di sungai-sungai yang seharusnya menjadi salah satu sumber air masyarakat adalah salah satu penyebab kualitas air sangat menurun. Kita ambil contoh Ibukota Jakarta. Menurut BPLHD DKI Jakarta, sungai-sungai di Jakarta sudah tercemar bakteri E-coli―bakteri dari sampah organik dan tinja manusia. Sekitar 83 persen sungai dan 79 persen situ yang ada di DKI Jakarta ada dalam kategori buruk. Pantas saja bila BPLHD juga menyatakan kalau 60% air di Jakarta tidak layak minum. Padahal, kebutuhan air bersih orang di Jakarta setiap hari diperkirakan 175 liter air per orang. (www.metrotvnews.com). Penelitian WHO menyebutkan bahwa penyakit yang dapat timbul akibat penyediaan air bersih yang kurang antara lain: kolera, hepatitis, polimearitis, typoid, disentrin trachoma, scabies, malaria, yellow fever, dan penyakit cacingan.

Hal itu harusnya mulai membuka mata kita bahwa ada sesuatu yang harus kita lakukan di sini. Jangan sampai krisis air akibat kuantitas dan kualitasnya yang menurun berlanjut bukan sekedar penurunan kualitas hidup semata, namun juga pada tahap yang sangat ekstrim dapat menjadi pencetus perang perebutan air seperti yang ditakutkan Vandana Shiva dalam bukunya Privatization, Pollution and Profit. Di dalam buku itu dia menyebutkan bahwa kondisi krisis air berpotensi dapat memicu konflik antar daerah atau bahkan antar negara.

Memulai Aksi Nyata
Tidak bisa dipungkiri bahwa memang ada beberapa hal yang tidak bisa kita lakukan sebagai orang perorangan (pribadi) karena memang cakupan tugas tersebut terlalu luas dan merupakan bagian dari kewajiban pemerintah, seperti pembuatan bendungan baru untuk penampungan surplus air hujan, memperbaiki tata ruang kota, mendorong inovasi teknologi desalinasi air laut atau teknologi pembuatan air bersih layak minum, pengawasan pembuangan limbah industri, pembangunan dan perbaikan pipa saluran air agar tidak bocor, serta perbaikan kondisi DAS yang terlanjur rusak parah.

Namun, ada beberapa hal sederhana dan mudah yang dapat kita mulai untuk melestarikan sumber air demi ketersediaannya di masa mendatang.

Beberapa hal itu adalah:
  1. Menghentikan dan menghindari penggunaan air secara berlebihan (boros), misalnya menyiram tanaman dengan air bekas cucian beras, memperbaiki selang dan kran yang rusak agar air tidak terbuang sia-sia, dan tidak berlebihan dalam menggunakan air untuk mandi.
  2. Tidak merusak daerah aliran sungai (DAS) dengan membangun bangunan di tepian sungai atau membuang sampah sembarangan, terutama ke sungai.
  3. Menjaga kebersihan air sungai dan danau,yaitu dengan tidak membuang sampah ke sungai dan danau.
  4. Memaksimalkan penggunaan air hujan, misalnya air hujan ditampung untuk keperluan siram tanaman ataupun mencuci kendaraan.
  5. Membuat lubang biopori dan tidak memplester halaman rumah dengan semen.  Hal ini dilakukan agar daerah resapan air tidak semakin sempit.
  6. Menggunakan air daur ulang untuk  keperluan sehari-hari. Masjid Istiqlal melakukan langkah strategis dengan memberikan respons positif terhadap pembangunan instalasi pengolahan air limbah di Masjid Istiqlal untuk kemudian digunakan sebagai air wudhu jamaah.

Kesimpulan
Tanggung jawab pelestarian dan pemanfaatan sumber daya air secara maksimal bukan hanya di tangan pemerintah. Kita sebagai rakyat Indonesia juga memiliki andil yang tidak bisa dianggap remeh. Kita semua harus saling bahu membahu mengubah paradigma tentang ketersediaan air dan pemanfaatannya yang selama ini salah dan kurang bijak. Itu semua kita lakukan bukan hanya untuk kepentingan kita saat ini, tetapi juga untuk kepentingan yang lebih besar, yaitu kepentingan anak-cucu kita kelak di bumi Indonesia ini.
“Indonesia penuh dengan air! Setelah sempat mengalami kesulitan air di beberapa daerah, akhirnya karena kerjasama yang baik antara rakyat dan pemerintah, ketersediaan air tidak lagi menjadi masalah.”
Kita semua tentunya berharap bahwa kelak akan datang suatu masa ketika sastrawan lain, penerus Bung Ras Siregar, yang merangkum kondisi air bersih di Indonesia dengan kata-kata semacam di atas dan semoga masa itu terjadi dalam waktu dekat!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC–Dokter Pegiat ASI yang Pemberani

Pernahkah Anda mendengar cerita tentang dokter yang “berselingkuh” dengan industri farmasi dan industri kesehatan? Saya pernah mendengar hal semacam itu dan beberapa orang kenalan saya memang membenarkan kalau itu terjadi. Katanya memang ada perusahaan farmasi yang menawarkan “hadiah” kepada para dokter yang mau menuliskan obat produksi mereka dalam resep-resep mereka. Hadiahnya bisa bermacam-macam, dari dibiayai pendidikan lanjutnya sampai diberikan mobol mewah terbaru. Miris bagaimana kesehatan pasien menjadi barang dagangan semata di kalangan oknum dokter yang takubahnya seperti agen obat itu. Tapi saya yakin, tidak semua dokter punya prinsip demikian. Ada juga dokter yang masih memiliki integritas tinggi dan membaktikan hidupnya demi nilai-nilai kemanusiaan. Saya pernah menemui salah satu dari dokter yang seperti itu. Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan menjadi relawan jurnalistik Dompet Dhuafa dan diminta untuk mewawancarai beberapa dokter yang menjadi relawan medis di sana. N…

Tiga Pertanyaan

Pendidikan Interprofesional (IPE) Profesi Kesehatan di Indonesia

: Obat Manjur Bagi Prasangka Profesi
Bila berbicara tentang prasangka negatif terhadap profesi kesehatan lain, mau tidak mau saya jadi teringat dengan peristiwa sepuluh tahun lalu, saat saya masih bertugas sebagai asisten apoteker di sebuah apotek swasta di bilangan Jakarta Barat. Saat itu saya baru lulus SMF (dahulu masih bernama SMF, kalau sekarang sudah menjadi SMK Farmasi). Ketika itu saya mendapat giliran tugas pagi, sedangkan senior saya tugas malam. Apoteker apotek pun sepagi itu sedang tugas mengajar di SMF binaannya. Kemudian datanglah seorang pasien manula membawa selembar resep yang ternyata ditulis dr. X yang terkenal tulisannya sulit dibaca. Keringat dingin langsung mengucur dari tubuh saya, tapi jelas saya tidak boleh menolak resep. Saya bisa kena omel pimpinan apotek kalau ketahuan dan kasihan juga pasien malang itu. Juru racik saya yang baik menyarankan agar menelpon dokternya langsung untuk konfirmasi isi resepnya. Saran itu tidak langsung saya iyakan karena teringat t…