Langsung ke konten utama

Anak Haram?

Gak bisa dipungkiri, pergaulan remaja sekarang memang sudah sampai level yang sangat memprihatinkan. Free sex.

Teman dari Jogja ada yang cerita kalau  pernah ada penelitian yang mengungkap kalau tiap malam tahun baru, daerah Kaliurang dan Malioboro, kondom akan susah dicari karena sampai kehabisan stok. Siapa lagi yang pakai kalau bukan anak-anak remaja? Di Jogja sana juga terkenal dengan warnet mesumnya, lebih miris lagi ternyata konsumennya kebanyakan adalah anak usia sekolah.

Sayangnya, keberanian mereka untuk melakukan hal yang terlarang oleh agama dan norma tidak diiringi dengan keberanian untuk bertanggung jawab atas perbuatan mereka sendiri ketika Allah menakdirkan kalau benih yang mereka tuai sebelumnya itu berkembang dengan sehat di rahim si bocah perempuan.

Si bocah perempuan tidak berani bertanggungjawab untuk melahirkan bayinya, si bocah laki-laki tidak berani bertanggung jawab untuk menikahi dan menafkahi. Semuanya dengan alasan, karena masih muda. Lalu, kenapa alasan "masih muda" itu tidak mereka lafalkan berulang-ulang sebelum melakukan persetubuhan-persetubuhan itu?

Bagaimana pun, janin yang di dalam rahim bocah perempuan itu tidaklah berdosa, saat lahir pun dia tidak menjadi manusia dengan label haram, dia bukan anak haram! Perbuatan orangtuanyalah yang haram, tetapi tidak si bayi itu.

Jikalau boleh memilih dan meminta pada Allah, tentu si bayi tidak akan pernah mau dilahirkan dari persetubuhan haram orangtuanya! PIkirkanlah!

Ketika si bocah perempuan memberanikan diri untuk menjalani proses persalinan, hargailah keputusannya dan kasihilah bayinya, tanpa menyematkan label kasat mata "anak haram" di dahinya!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC–Dokter Pegiat ASI yang Pemberani

Pernahkah Anda mendengar cerita tentang dokter yang “berselingkuh” dengan industri farmasi dan industri kesehatan? Saya pernah mendengar hal semacam itu dan beberapa orang kenalan saya memang membenarkan kalau itu terjadi. Katanya memang ada perusahaan farmasi yang menawarkan “hadiah” kepada para dokter yang mau menuliskan obat produksi mereka dalam resep-resep mereka. Hadiahnya bisa bermacam-macam, dari dibiayai pendidikan lanjutnya sampai diberikan mobol mewah terbaru. Miris bagaimana kesehatan pasien menjadi barang dagangan semata di kalangan oknum dokter yang takubahnya seperti agen obat itu. Tapi saya yakin, tidak semua dokter punya prinsip demikian. Ada juga dokter yang masih memiliki integritas tinggi dan membaktikan hidupnya demi nilai-nilai kemanusiaan. Saya pernah menemui salah satu dari dokter yang seperti itu. Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan menjadi relawan jurnalistik Dompet Dhuafa dan diminta untuk mewawancarai beberapa dokter yang menjadi relawan medis di sana. N…

Tiga Pertanyaan

Pendidikan Interprofesional (IPE) Profesi Kesehatan di Indonesia

: Obat Manjur Bagi Prasangka Profesi
Bila berbicara tentang prasangka negatif terhadap profesi kesehatan lain, mau tidak mau saya jadi teringat dengan peristiwa sepuluh tahun lalu, saat saya masih bertugas sebagai asisten apoteker di sebuah apotek swasta di bilangan Jakarta Barat. Saat itu saya baru lulus SMF (dahulu masih bernama SMF, kalau sekarang sudah menjadi SMK Farmasi). Ketika itu saya mendapat giliran tugas pagi, sedangkan senior saya tugas malam. Apoteker apotek pun sepagi itu sedang tugas mengajar di SMF binaannya. Kemudian datanglah seorang pasien manula membawa selembar resep yang ternyata ditulis dr. X yang terkenal tulisannya sulit dibaca. Keringat dingin langsung mengucur dari tubuh saya, tapi jelas saya tidak boleh menolak resep. Saya bisa kena omel pimpinan apotek kalau ketahuan dan kasihan juga pasien malang itu. Juru racik saya yang baik menyarankan agar menelpon dokternya langsung untuk konfirmasi isi resepnya. Saran itu tidak langsung saya iyakan karena teringat t…