Langsung ke konten utama

Renungan asam-garam

Bergaya ala chef profesional, tadi aku memasak tumis udang kuah brokoli (menamakan sendiri karena cuma iseng coba-coba).

dimulai dari memotong bawang bombay dan sayuran lain sambil beraksi dengan membayangkan kelihaian para chef memainkan pisau, menyiapkan bahan lain yang kira-kira diperlukan...menumis , memadukan bahan-bahan yang berbeda sifat dan jenis menjadi satu paduan masakan yang mudah-mudahan lezat.

semua ini membuat aku teringat tentang sebuah pernyataan yang asalnya aku lupa darimana, entah dari lagu dangdut yang pernah aku dengar semasa kecil dulu (agak malu nih karena ternyata dulu penggemar dangdut juga) atau dari buku pelajaran bahasa Indonesia. Pernyataan itu kira-kira berbunyi begini : asam di gunung, garam di laut..tapi bertemu juga mereka di kuali.

yang bisa aku tangkap,intinya berkaitan dengan jodoh...bahwa bahan yang berlainan jenis dan sifat,pun berjauhan asalnya...bila dikehendaki Alloh ta'ala akan bertemu juga di satu tempat dan waktu yang alhamdulillah masih misteri...duhai, romantisnya Rabb-ku ini!.

tapi uniknya, hari-hari si-asam ini tidak diisi dengan berlebihan mencari-cari cara untuk berdekatan dengan garam...

si - asam memenuhi takdirnya sebagai asam....mulai dari ditanam, tumbuh, berbunga, sampai berbuah dan kemudian di petik petani....melalui jalan sempit dan pakulan pak tani akhirnya si-asam terjual kepada pedagang pasar, setelah berapa lama menunggu akhirnya ada juga pembeli yang memilih si-asam yang beruntung ini untuk dipertemukan dengan garam saat memasak sayur asam.

Qodarulloh....takdir Alloh.

Panjang perjalanannya tetapi bila sudah ditakdirkan maka tidak ada yang bisa menolak ketetapannya....subhanalloh, bahkan takdir buah asampun sudah tertulis di lauhul mahfuz.

begitupun takdir manusia. sudah mengering tinta-Nya dari penulisan rancangan takdir semua makhluk-Nya. Kita tinggal berusaha memenuhi kewajiban sebagai manusia, lalu takdir yang sudah ditetapkan akan terjadi juga pada diri kita. tak perlu ngoyo mengejar garam (jodoh,red)

Mudah-mudahan sebagaimana asam dan garam, Alloh Ta'ala kelak mempertemukan  kita dengan jodoh berupa pasangan hidup yang sholehah/sholeh, di waktu dan tempat tertentu...pada masanya...pada saat ditakdirkan-Nya...yang kapan itu terjadi, tak seorangpun yang tahu.

Duhai, romantisnya Rabb-ku ini. Alhamdulillah.





Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC–Dokter Pegiat ASI yang Pemberani

Pernahkah Anda mendengar cerita tentang dokter yang “berselingkuh” dengan industri farmasi dan industri kesehatan? Saya pernah mendengar hal semacam itu dan beberapa orang kenalan saya memang membenarkan kalau itu terjadi. Katanya memang ada perusahaan farmasi yang menawarkan “hadiah” kepada para dokter yang mau menuliskan obat produksi mereka dalam resep-resep mereka. Hadiahnya bisa bermacam-macam, dari dibiayai pendidikan lanjutnya sampai diberikan mobol mewah terbaru. Miris bagaimana kesehatan pasien menjadi barang dagangan semata di kalangan oknum dokter yang takubahnya seperti agen obat itu. Tapi saya yakin, tidak semua dokter punya prinsip demikian. Ada juga dokter yang masih memiliki integritas tinggi dan membaktikan hidupnya demi nilai-nilai kemanusiaan. Saya pernah menemui salah satu dari dokter yang seperti itu. Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan menjadi relawan jurnalistik Dompet Dhuafa dan diminta untuk mewawancarai beberapa dokter yang menjadi relawan medis di sana. N…

Tiga Pertanyaan

Pendidikan Interprofesional (IPE) Profesi Kesehatan di Indonesia

: Obat Manjur Bagi Prasangka Profesi
Bila berbicara tentang prasangka negatif terhadap profesi kesehatan lain, mau tidak mau saya jadi teringat dengan peristiwa sepuluh tahun lalu, saat saya masih bertugas sebagai asisten apoteker di sebuah apotek swasta di bilangan Jakarta Barat. Saat itu saya baru lulus SMF (dahulu masih bernama SMF, kalau sekarang sudah menjadi SMK Farmasi). Ketika itu saya mendapat giliran tugas pagi, sedangkan senior saya tugas malam. Apoteker apotek pun sepagi itu sedang tugas mengajar di SMF binaannya. Kemudian datanglah seorang pasien manula membawa selembar resep yang ternyata ditulis dr. X yang terkenal tulisannya sulit dibaca. Keringat dingin langsung mengucur dari tubuh saya, tapi jelas saya tidak boleh menolak resep. Saya bisa kena omel pimpinan apotek kalau ketahuan dan kasihan juga pasien malang itu. Juru racik saya yang baik menyarankan agar menelpon dokternya langsung untuk konfirmasi isi resepnya. Saran itu tidak langsung saya iyakan karena teringat t…