Langsung ke konten utama

Hari bahagia

bila ada yang bertanya padamu satu pertanyaan sederhana seperti apa itu hari yang bahagia? apa jawabmu kawan?

bangun pagi sudah ada yang menyiapkan sarapan? membaca sms masuk yang berisi "i luv u"? jalanan yang biasa macet, tiba-tiba lengang? bos besar yang biasa sangar tiba-tiba senyum dengan sangat manis dan memuji kinerja kita? atau buat yang masih sekolah, kepala sekolah mengumumkan ternyata nama kita terpilih menjadi perwakilan student exchange ke LN? atau si-dia yang biasanya cuek jadi cari-cari perhatian dengan tingkahnya yang "menggemaskan"?

sebutkan saja kawan...satu persatu alasan mengapa kita sebut hari ini adalah hari yang bahagia. Sampai penuh postingan comment-nya pun tak mengapa.

tapi satu hal, mengapa kebanyakan kita selalu butuh faktor eksternal untuk bahagia??? faktor luarpun juga penyebab kita merasa selalu tidak bahagia dan tertekan....mengapa kawan????

apa itu tidak berarti kita menyerahkan pilihan hidup kita untuk sepanjang hari kedepan pada orang lain? pada kondisi luar? pada macetnya jalanan? pada bos galak yang tidak peduli pada kita sebagai bawahan? lemah sekali kita bung!!!!

mengapa tidak kita mulai hari ini dengan niat sungguh dan ikhlas,pilihan kita sendiri bahwa :"Ya....hari ini aku akan menjalani hidupku dengan bahagia,karena itu adalah pilihanku yang tidak bisa direbut oleh siapapun dan apapun...."

"Ya....hari ini aku memilih untuk bahagia,adakah alasan untuk aku tidak bahagia? tangan kakiku lengkap, mata masih bisa melihat, telinga masih bisa mendengar, mental masih sehat, udara masih gratis, cinta masih ada....Alloh ta 'ala masih berbaik hati memberikan kesempatan hidup di pagi hari ini, untuk memperbaiki diri lagi..."

"Ya....hari ini aku memilih bahagia dan menyebarkan senyum bahagiaku ke saudara-saudaraku yang lain....barangkali memang hanya senyum itu yang aku punya untuk dibagi dengan yang lain....barangkali senyumku hari ini menceriakan hidup mereka dan menularkan kebahagiaan yang kurasakan ke banyak orang lainnya....chain reaction!"

karena itu kawan....selamat berbahagia dihari ini.....

(we are the choices that we've made)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC–Dokter Pegiat ASI yang Pemberani

Pernahkah Anda mendengar cerita tentang dokter yang “berselingkuh” dengan industri farmasi dan industri kesehatan? Saya pernah mendengar hal semacam itu dan beberapa orang kenalan saya memang membenarkan kalau itu terjadi. Katanya memang ada perusahaan farmasi yang menawarkan “hadiah” kepada para dokter yang mau menuliskan obat produksi mereka dalam resep-resep mereka. Hadiahnya bisa bermacam-macam, dari dibiayai pendidikan lanjutnya sampai diberikan mobol mewah terbaru. Miris bagaimana kesehatan pasien menjadi barang dagangan semata di kalangan oknum dokter yang takubahnya seperti agen obat itu. Tapi saya yakin, tidak semua dokter punya prinsip demikian. Ada juga dokter yang masih memiliki integritas tinggi dan membaktikan hidupnya demi nilai-nilai kemanusiaan. Saya pernah menemui salah satu dari dokter yang seperti itu. Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan menjadi relawan jurnalistik Dompet Dhuafa dan diminta untuk mewawancarai beberapa dokter yang menjadi relawan medis di sana. N…

Tiga Pertanyaan

Pendidikan Interprofesional (IPE) Profesi Kesehatan di Indonesia

: Obat Manjur Bagi Prasangka Profesi
Bila berbicara tentang prasangka negatif terhadap profesi kesehatan lain, mau tidak mau saya jadi teringat dengan peristiwa sepuluh tahun lalu, saat saya masih bertugas sebagai asisten apoteker di sebuah apotek swasta di bilangan Jakarta Barat. Saat itu saya baru lulus SMF (dahulu masih bernama SMF, kalau sekarang sudah menjadi SMK Farmasi). Ketika itu saya mendapat giliran tugas pagi, sedangkan senior saya tugas malam. Apoteker apotek pun sepagi itu sedang tugas mengajar di SMF binaannya. Kemudian datanglah seorang pasien manula membawa selembar resep yang ternyata ditulis dr. X yang terkenal tulisannya sulit dibaca. Keringat dingin langsung mengucur dari tubuh saya, tapi jelas saya tidak boleh menolak resep. Saya bisa kena omel pimpinan apotek kalau ketahuan dan kasihan juga pasien malang itu. Juru racik saya yang baik menyarankan agar menelpon dokternya langsung untuk konfirmasi isi resepnya. Saran itu tidak langsung saya iyakan karena teringat t…